Cerita Tentang Pengalaman Bimtek Guru Bahasa Lampung

Senin pagi, seperti biasa saya harus bersiap datang ke sekolah lebih pagi. Karena saya dapat jadwal piket menyambut anak-anak di depan sekolah setiap hari Senin. Ditambah selama empat hari ke depan ada undangan Bimtek Guru Bahasa Daerah di Dinas Pendidikan Kota Metro. Sejak setahun yang lalu saya diberi tugas tambahan untuk mengajar bahasa daerah, yaitu Bahasa Lampung. Tahun ini merupakan tahun kedua saya mengemban amanah sebagai guru Bahasa Lampung.

Kebetulan hari itu masih periode mesntruasi hari ketiga. Biasanya sudah biasa saja, tapi entah kenapa hari itu masih terasa sedikit nyeri. Setelah absen dan piket saya bersiap menuju ke tempat Bimtek.

Dalam perjalanan, pikiran saya melanglangbuana. Saya berpikir dan berharap bimtek empat hari yang menurut saya cukup lama ini menghadirkan pemateri-pemateri yang andal dan menyenangkan. Kadang rasanya lelah, ikut bimtek atau pelatihan kalau pematerinya buat ngantuk. 

Badan jadi terasa capek, terus malah nggak dapat ilmu apa-apa, ujung-ujungnya hanya kesal saja.Sambil mengendarai motor saya juga berharap dapat kenalan teman baru, supaya lebih semangat lagi. Baru setahun mengemban tugas ini, membuat saya tidak memiliki banyak teman satu profesi. 

Sesampainya di parkiran Dinas Pendidikan, sudah ada beberapa orang dengan pakaian dinas cokelat PNS. Hanya saya sendiri yang mengenakan pakaian berwarna biru tua. Memang seragam hari Senin adalah biru tua ini. Rasanya jadi beda sendiri. Ah saya juga tidak keberatan menjadi beda.

Saat memarkir motor, ada satu ibu orang yang berseloroh ke arah saya. "Wah kayaknya SMP juga ini" tegurnya.

Maksudnya dia bilang saya juga dari perwakilan SMP. Karena pada bimtek ini ada guru SMP dan guru SD. Kemudian saya juga saling menyapa ibu ini yang ternyata perwakilan dari salah satu SMP negeri di Kota Metro. Namanya Bu Kurnia.

Saya bilang padanya, mau izin sarapan dulu karena tadi tidak sempat sarapan hanya sempat mewadahi nasi, lauk dan sayur. Sambil menunggu arahan panitia. 

Setelah sarapan, kami menuju ruang bimtek yang sudah disiapkan panitia. Ternyata di sana sudah cukup ramai. Langsung saja saya duduk di kursi nomor dua supaya tidak mengantuk. Kadang kalau duduk di kursi bagian belakang jadi banyak distraksi yang mengakibatkan rasa kantuk datang.

Sebelum bimtek dimulai ada pembukaan resmi dari Kepala Dinas. Wah keren juga nih bimtek guru bahasa daerah, yang notabene adalah mata pelajaran muatan lokal sampai dibuka oleh Kepala Dinas langsung. Mungkin karena tempatnya memang di Dinas Pendidikan juga. 

Sambutan Kepala Dinas

Materi pertama disampaikan oleh ibu Wiwi Fitriani dari Balah Guru Penggerak (BGP) Lampung. Dari awal beliau membuka materi, saya punya feeling akan suka dengan cara penyampaian materi beliau. Dan ternyata benar dong. Makanya saya mau menuliskannya di sini supaya jadi kenangan. Hehe.

Bu Wiwi membuka materi dengan satu pertanyaan refleksi. Tentang apa yang menjadi panduan kami sebagai guru dalam menjalankan proses pembelajaran di kelas. Banyak teman-teman yang bilang kalau panduan utamanya buku, adapula yang menyebutkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Pada Implementasi Kurikulum merdeka RPP disebut juga modul ajar. RPP dan Modul ajar sekilas memang mirip. Tapi keduanya memiliki perbedaan. Modul ajar memuat komponen pelaksanaan pembelajaran lebih lengkap.

Selama satu hari penuh Bu Wiwi mengisi materi tentang pembelajaran berparadigma baru berdasarkan kurikulum merdeka. Ini juga menjadi ajang brain storming tentang bagaimana kurikulum merdeka ada dan senantiasa dihayati oleh para guru maupun orang-orang di lingkungan pendidikan.

Ada banyak hal menarik di sini. Salah satunya tentang pembelajaran interaktif dan menyenangkan utamanya untuk pelajaran Bahasa Lampung. Selama ini, Bahasa Lampung boleh dibilang merupakan salah satu pelajaran yang cukup dihindari oleh peserta didik.

Maka lewat bimtek inilah, harapannya para guru dapat membuat trobosan baru agar pembelajaran bahasa daerah lebih menyenangkan. Hal ini pula akan berkaitan erat dengan perencanaan pembelajarang dan pembuatan modul ajarnya.

Bu Wiwi menuturkan bahwa ruh atau nyawa kurikulum merdeka terletak pada model pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi sebenarnya bukan sesuatu yang asing untuk saya. Pasalnya tahun lalu, sekolah kami mengadakan lomba pembelajaran berdiferensiasi antar guru. Videonya dapat dilihat di sini.

Namun, meskipun sudah pernah membuat video lomba pembelajaran berdiferensiasi. Masih banyak yang perlu didiskusikan tentang bagaimana penerapan pembelajaran berdiferensiasi ini. Kadang masih banyak pula kendala di lapangan. Sehingga masih harus terus belajar dan menambah kapasitas diri.

Model pembelajaran diferensiasi memang terlihat mudah dan sangat mengakomodir kebutuhan peserta didik. Tapi dibalik itu semua, guru atau pendidik harus bekerja keras mendesain dan menyiapkan pembelajaran yang cukup rumit menurut saya. Sederhananya, dalam proses pembelajaran diferensiasi ini sangat membutuhkan persiapan yang matang.

Sehari penuh melewati materi kurikulum merdeka bersama Bu Wiwi. Tidak terasa hari sudah sore. Sudah waktunya untuk pulang. Besok kembali ke sini melanjutkan bimtek. Hari berikutnya materi diisi oleh Bu Ulfa. Saya tidak begitu ingat background beliau. Tapi hari kedua ini masih membahas hal yang tidak jauh berbeda dengan hari pertama.

Hanya saja, selepas zuhur, kami mendapat materi atau lebih tepatnya simulasi pembelajaran berdiferensiasi bersama bapak Nuris. Kali ini sepertinya teman-teman bisa menikmati dan mencerna materi dengan baik. Pasalnya kami praktik secara langsung bagaimana pembelajaran berdiferensiasi diterapkan.

Walaupun terkesan sangat mudah, satu hal yang perlu kita ingat adalah pada simulasi ini, yang menjalankan adalah gurunya. Sementara kompetensi peserta didik dan guru sudah jelas berbeda. Saya membayangkan di lapangan lebih banyak hambatan rasanya. Itupun, bayangan untuk sekolah swasta yang fasilitasnya sudha cukup memadai. Bagaimana dengan sekolah-sekolah yang belum memadai?

Namun, seorang guru tidak boleh menyerah begitu saja bukan? Harus bisa memaksimalkan fasilitas, sarana dan prasarana yang ada untuk digunakan dalam proses pembelajaran, khususnya pembelajaran berdiferensiasi.

Selanjutnya, hari ketiga, kami mendapat pembekalan bagaimana membuat modul ajar atau rencana pembelajaran yang berdiferensiasi. Ibu Ruli, salah satu guru matematika di SMP Negeri Kota ini sekaligus seorang guru penggerak yang menjadi fasilitator kami.

Bu Ruli memberikan contoh langsung bagaimana membuat Modul Ajar untuk pembelajaran berdiferensiasi. Nah, saat inilah sepertinya teman-teman mulai bingung untuk mempraktikkannya. Saya sendiri lebih banyak bengong memikirkan ide diferensiasi yang cocok untuk materi yang berbeda-beda.

Kelompok penyusunan modul ajar. 

Selama dua hari, kami, peserta bimtek berjuang menyelesaikan modul ajar pembelajaran berdiferensiasi secara berkelompok. Saya sendiri merasa proses ini cukup berat. Apalagi teman-teman guru yang usianya sudah 30 tahun ke atas. Walaupun kita semua sudah familiar dengan gawai dan sosial media. Ternyata itu tidak menjamin penguasaan teknologi.

Bahkan sekadar membuat form saja. Saya yakin masih banyak yang bingung. Artinya, pemerintah juga harus aware dengan ini. Bahwa pemberlakuan kurikulum merdeka memang akan menyempurnakan kurikulum yang sudah ada, tapi harus didukung Sumber Daya Manusianya.

4 Responses to "Cerita Tentang Pengalaman Bimtek Guru Bahasa Lampung"

  1. wow, bu guru terus semangat ya. Apalagi pelatihan bimtek meningkatkan kompetensi guru semoga makin maju deh membuat bahan ajarnya

    ReplyDelete
  2. Keren mbak, semoga lewat event Bimtek ini bisa meningkatkat kualitas mengajar dan guru bisa menciptakan atmosfer belajar mengajar yang lebih fun ya

    ReplyDelete
  3. Semangat belajarnya bu guru! 💪😍 Demi masa depan pendidikan Indonesia yang lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  4. saya baca tulisan blog mba ririn, jadi inget masa2 saya masih berkecimpung dengan RPP. Asli itu menyita waktu saya sekali... hahaha... apalagi saya mengajar 3 angkatan. kelas 4 - 6.

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel