Pengalaman Menyapih Anak: Apa yang Tidak Pernah Diceritakan Ibu-Ibu

Bulan Desember 2025, Mufi genap berusia 20 bulan. Aku memang sudah berencana akan menyapihnya. Sesuai dengan saran mamak. Karena sebentar lagi juga puasa dan momennya pas waktu ayahnya libur kerja jadi ada yang bantu mengalihkan.

Awalnya aku pengen proses menyapih Mufi minim drama. Aku juga sudah melakukan sounding dari tiga bulan sebelumnya. Tapi entah kenapa sounding-nya selalu mendapat penolakan dari Mufi. Bisa jadi karena aku juga terlalu sibuk dengan hal lain jadi soundingnya juga kurang maksimal. 

Ketika tiba pada waktu yang telah direncanakan. Aku bingung dan merasa benar-benar tidak siap. Apalagi posisi kami bertiga terserang batuk secara hampir bersamaan. Sebelumnya Mufi juga dapat imunisasi kombo dan pilek di bulan lalu. 

Rasanya nano-nano sekali kalau semuanya sakit gini. Aku sampai berobat dua kali dan batuknya belum juga reda. Mamakku mengingatkan lagi untuk menyapih Mufi sekarang saja. Awalnya aku uring-uringan karena posisi badan lagi nggak fit juga. Tapi akhirnya aku nekad menyapih Mufi dengan kondisi aku dan suami lagi batuk+sariawan, dan Mufi sendiri batuknya juga belum reda.

Menyapih yang Tidak Pernah Benar-Benar Siap

Aku pernah baca postingan di threads katanya semakin lama anak tuh menganggap nen semakin enak. Mamakku juga bilang makin Mufi tumbuh besar, ia akan semakin pintar menolak dan tidak ingin dibohongi. Aku sendiri juga merasakan saat melakukan sounding. Ketika dirayu dia terus menolak dan aku sendiri jadi emosi.

Maka dalam kenekatan ini aku hanya berharap dapat pertolongan dari Allah dalam proses menyapih Mufi. Pada titik ini aku sudah tidak menghiraukan prinsip menyapih tanpa trauma. Akupun memakai metode kolonial yaitu pakai pai-paitan. 

Setelah mengobrol dengan beberapa orang ku putuskan menggunakan biji mahoni. Ketika aku cicipi rasanya cukup pahit. Kebetulan tetangga dekat rumah kami ada yang punya pohon mahoni. Siang-siang aku mencari-cari di bawah pohonnya buah mahoni. Ternyata tidak ada karena ini bukan musimnya mahoni berbuah.

Alhamdulillahnya, sang pemilik menyimpan buah mahoni dan dengan sukarela memberikannya padaku segenggam. Sampai di rumah langsung ku gerus dan ku oleskan ke putingku. Posisi dari hari sebelumnya suamiku juga sudah berusaha mengalihkan fokusnya. Mengajaknya bermain agar dia sejenak melupakan nen. Ketika itu hanya dua kali dia nen waktu siang.

Hari Pertama

Sorenya dia coba nen mau muntah, sudah merasakan pahit. Aku deg-degan saat malam. Malam itu kami menidurkan Mufi dengan naik motor. Karena dikeloni nggak mau. Posisi Mufi sudah tantrum parah. Sekitar jam sebelas dia bangun, posisi aku ngantuk. Reflek banget langsung ngasih nen ke Mufi dengan keyakinan Mufi menolak karena pahit. Tapi ternyata dia tetep enjoy kayak nggak ada apa-apa.

Kebangun selanjutnya, aku olesin lagi dengan biji mahoni dengan harapan dia merasa pahit. Ternyata masih tetap enjoy. Akupun panik, khawatir dan bingung. Besok gimana nih? Besoknya dapat saran dari orang do threads katanya pakai daun papaya. Oke besoknya pakai daun pepaya.

Hari Kedua

Paginya aku cobain ke dia, tetep digasak dong. Aku makin panik dan bingung. Siang itu aku bilang ke suami nanti malam aku harus tidur terpisah. Se-kolonial itu kan aku menyapih Mufi? Siangnya masih kebocoran nen karena ternyata dia kuat pahit-pahitan. Malamnya sama seperti sebelumnya tantrum parah. 

Ketika itulah hatiku rasanya seperti teriris. Mungkin suamiku juga. Kami berdua merasa tak benar-benar kasihan pada Mufi. Kami telah menciptakan trauma untuknya. Tapi aku nggak boleh patah arang. Sudah sejauh ini. Dari awal aku sudah nekat. Walaupun badan rasanya juga nggak karu-karuan harus tetap lanjut supaya tidak sia-sia. Aku berhasil tidak menangis.

Malam itu, Mufi tidur karena lelah menangis. 

Hari Ketiga

Besoknya aku bangun dengan semangat baru. Memikirkan menu-menu untuk Mufi supaya dia enak makan. Payudara bengkak tapi harus tetap kuat. Aku minum parasetamol sesuai saran mereka yang senior. 

Hari itu, kami mengajak Mufi pergi ke playground dekat rumah. Tidak lupa membawa bekal dan camilan. Semoga permainan yang menyenangkan bisa melupakan traumanya. Karena sariawanku dan suami juga makin parah, kami mau cari bubur ayam. 

Dan secara nggak sengaja berhenti di pinggir sawah dekat rumah. Kami makan bubur di sana. Mufi ikut makan jadi sedikit-sedikit bisa mengisi perutnya. Pulang dari sini, kami puterin naik motor sebentar dia tidur. 

Sorenya kita alihkan dia dengan bermain dan berkebun. Hari ketiga ini payudaraku mulai bengkak dan nyeri. Kepalaku nyut-nyutan. Sariawanku masih perih dan batukku tak kunjung reda. Aku hanya memohon kepada Allah agar diberi keringanan. 

Setelah browsing cara mengatasi payudara bengkak. Aku menemukan tips untuk memompa ASInya sedikit saja. Alhamdulillah lumayan reda walaupun masih terasa nyeri. 

Malamnya aku masih tidur terpisah. Seingatku waktu mau tidur masih kami bawa motoran sebentar. Tapi malam itu, alhamdulillah ibu mertuaku tidur di rumah. Jadi ketika tengah malam Mufi bangun, menangisnya tidak terlalu lama. Langsung digendong ibu mertua dan tidur lagi. Aku bisa istirahat lebih lama walaupun masih dengar dia menangis dan kebangun tiga kali. Semuanya dihandle suami dan ibu mertua.

Hari Keempat

Paginya dia bangun lumayan siang sekitar jam 08.00. Aku dan ayah sudah bersiap mengajak Mufi ke playground lagi. Tapi karena merasa bosan main di playground sekolahan TK dekat rumah. 

Kami memutuskan pergi ke salah satu Lapangan di Yosomulyo. Ternyata di Lapangan ini ada beberpaa playground di tiap sudutnya. Lapangannya juga bersebelahan dengan sekolah TK jadi ada playgroudnya lagi.

Wah hari itu Mufi puas main di playground. Seperti biasa pulangnya dia bobo dalam gendongan. Hari itu kepalaku pusing sekali. Terpantau payudara masih bengkak. Kalau siang alhamdulillah agak mudah mengalihkan Mufi dan mengajaknya bermain.

Alhamdulillah malamnya masih ada bantuan dari mbah atau ibu mertuaku. Bener-bener lumayan aku bisa istirahat. Allah benar-benar meringankan banget melalui bantuan ibu mertuaku ini. Rasanya previlege banget jadi bisa berbagi tugas.

Malamnya masih tetap kebangun tiga kali, sebelum tengah malam, sepertiga malam dan menjelang pagi. Dia nangis mencari bundanya. Tapi nggak lama langsung tidur lagi. 

Hari Kelima

Hari kelima sudah semakin mudah. Makan sudah lahap dan kami hari kelima ini kami pergi ke Lapangan 23 Karang Rejo. Tidak lupa membawa bekal makanan supaya bisa piknik ala-ala. Di lapangan ini ada beberapa playground juga. Tapi tidak begitu lengkap. 

Seperti biasa pulangnya kami nunggu Mufi ngantuk jadi dia tidur di perjalanan dan lanjut tidur siang di rumah. Malamnya ada teman-teman ayah datang bersilaturahmi. Sebenarnya aku agak deg-degan kalau nanti Mufi jadi rewel. 

Mana biasanya kalau sudah ngobrol suka lupa waktu. Tapi alhamdulillah malam inilah Mufi sepertinya benar-benar sudah melupakan nenen. Bobonya dinyanyiin sambil dikelonin sama ayah. Tetap nyenyak walaupun ada suara ngobrol temen-temennya ayah. 

Alhamdulillah jam 11 malam kebangun digendong bunda langsung diem udah nggak inget nenen lagi. Setelah itu cuma bangun sekali lagi dan bobo nyenyak sampai pagi. Sudah mulai nyenyak bobonya. 

Hari Keenam

Paginya bangun seperti biasa. Badan bunda sudah mulai enak. Bengkaknya sudah nggak terasa. Hari ini kami mengajak Mufi ke perpustakaan daerah. Alhamdulillah di perpusda juga dia betah. Kami melakukan banyak aktivitas seperti main boneka, baca buku, main puzzle dan susun balok. 

Menjelang jam istirahat kami geser ke taman kota. Memang yang paling bikin malas kalau ke taman kota tuh pera pedagang asongan yang didominasi dengan mainan anak. Bukan gimana-gimana harga yang mereka berikan itu harga aji mumpung. Jadi di taman juga tidak begitu lama.

Akhirnya geser ke Masjid saja yang letaknya juga bersebelahan. Sambil makan bekal. Alhamdulillah hari keenam benar-benar menyenangkan. Sepertinya Mufi sudah benar-benar melupakan nenen. Kami pulang setelah menunaikan salat zuhur. Dan sampai di rumah sekitar pukul satu siang dengan Mufi dalam keadaan tidur.

Menyapih Bukan Hanya Tentang Anak, Tapi Ibu Juga

Boleh dibilang menyapih itu perpisahan antara ibu dan anak. Bukan hanya anak yang merasa kehilangan tempat nyamannya selama ini. Tapi ibu juga kehilangan kebiasaan yang sudah terjadi sebelumnya. 

Makanya banyak ibu yang ikut menangis saat menyapih anaknya. Entag itu rasa kasian, terharu, atau merasa tidak siap berpisah dengan anak. Kalau aku sendiri entah kenapa tidak merasa terlalu melankolis. Aku tidak menangis walaupun ada rasa kasihan. 

Mungkin aku merasa pengalaman menyusui termasuk pengalaman yang cukup membuatku trauma. Aku sangat kelelahan menjalanan proses menyusui ini. Menyusui termasuk pengalaman perempuan terpanjang yang tidak ingin aku ulang lagi.

Itu sebabnya aku sangat menanti-nanti masa menyapih. Masa dimana aku mengakhiri pengalaman menyusui ini. Mungkin ini akan terkesan jahat dan kejam tapi aku hanya ingin mencoba jujur dengan perasaanku. Sampai hari ini proses hamil, melahirkan, menyusui dan mengasuh anak adalah pengalaman yang begitu melelahkan.

Proses Menyapih yang Tidak Terlalu Mulus

Sebelumnya aku sudah bertanya kepada mereka yang sudah berpengalaman menyapih. Kebanyakan dari mereka menyapih bukan sesuatu yang terlalu sulit. Ada yang menggunakan metode sounding dua sampai tiga bulan. Anaknya sudah mengerti. 

Tapi sepertinya itu tidak terjadi padaku. Aku sendiri menyadari aku bukan orang yang sabar jadi memang semuanya serba uring-uringan dan grusa-grusu. Makanya waktu menyapih Mufi juga sempat terbesit keraguan dan ketakutan akan kegagalan.

Support system memberikan pengaruh yang begitu besar. Terutama suami. Seperti yang terjadi padaku pada proses awal-awaal peran suamiku sangatlah banyak. Aku juga bersyukur ada bantuan mertuaku di tengah-tengah proses menyapih sehingga aku bisa fokus mengurus tubuhku yang juga bengkak payudaranya.

Menyapih adalah Bentuk Cinta yang Berbeda

Salah satu alasanku mempercepat proses menyapih Mufi karena Mufi tipe anak yang sebentar-sebentar mau nenen. Bahkan sampai di level mengganggu aktivitas makan. Kadang masih makan langsung teringat nenen. Kenaikan berat badannya cukup lambat dan belakangan dia susah sekali makan.

Saat malam sebentar-sebentar terbangun. Tidurnya tidak nyenyak dan aku jadi uring-uringan. Maka keputusan menyapih bisa jadi bentuk cinta yang berbeda karena di usia sekarang Mufi harus benar-benar fokus pada makannya agar gizinya terpenuhi. 

Lagipula, menyapih adalah proses yang memang harus dilalui oleh setiap anak. Makanya sebagai orang tua kita juga harus teguh pendirian. Walaupun itu bukan hal yang mudah. Selalu ingat bahwa menyapih adalah bagian penting dan wajib yang harus dilalui anak.

0 Response to "Pengalaman Menyapih Anak: Apa yang Tidak Pernah Diceritakan Ibu-Ibu"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel