Review Novel The Kite Runner: Potret Persahabatan dan Trauma di Tengah Konflik Afghanistan

Waktu nekad menyapih Mufi dengan kondisi badan yang kurang fit. Aku ingin menjauhkan diriku dari overthinking. Menurutku membaca buku adalah aktivitas paling ampuh untuk menjauhkan aku dari overthinking. The Kite Runner adalah buku yang sengaja ku beli dan awalnya ingin ku jual lagi. Tapi buku-buku dewasa memang tidak banyak terjual. Jadi kemungkinan akan jadi bacaanku.

Sebelumnya aku belum pernah membaca novel terjemahan dari timur tengah, tapi novel The Kite Runner yang menyandang label “worldwide bestseller” ini sangat membuatku tertarik. Sudah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa di 70 negara. WOW!

Amir sebagai tokoh utama dalam novel sekaligus narator mengisahkan hidupnya saat masih anak-anak di Kota Kabul. Dengan bahasa yang ringan novel ini membuatku betah berlama-lama membaca. Ceritanya sangat kuat dan sulit ditebak. 

Dengan lembut sang penulis, Khaled Hosseini mengisahkan kerumitan relasi antara anak remaja laki-laki yang berstatus piatu itu dengan ayahnya. Transisinya sangat sopan ketika cerita berpindah dari refleksi masa kecil, lalu berpindah pada situasi geopolitik Kota Kabul dan Negara Afganistan secara menyeluruh.

Membaca The Kite Runner membuatku terbayang akan situasi yang dituliskan lewat kata per kata dan kalimat per kalimat. Setiap diksi yang dirangkai menjadi kalimat telah memantik rasa peasaranku lebih dalam. Tapi sekali lagi The Kite Runner benar-benar mendapat kesan yang berbeda di hatiku. Konflik awal yang dibangun benar-benar kokoh. Setiap cerita yang mengiringinya selalu tertuju pada ujung yang sama.

Aku setuju kalau cerita The Kite Runner benar-benar menyentuh, seperti cerita dari kisah nyata. Sebagian besar karakternya laki-laki tapi benar-benar mengantarkan diriku pada rasa empati. Tidak seperti novel-novel yang biasanya ku sukai, yang tokohnya perempuan atau ditulis dengan sudut pandang perempuan. 

Rasanya aku juga belum pernah membaca kisah persahabatan sampai membuatku menangis, tapi persahabatan antara Amir dan Hasan membuatku benar-benar sesak. Ujung cerita yang terikat kokoh dengan narasi awal. Call-back yang dilakukan penulis benar-benar sempurna untuk sebuah novel yang tebal. Setelah menuntaskan semua halamannya kini aku paham mengapa buku ini jadi "worldwide bestseller."

"... bila seorang pengejar layang-layang mendapatkan layang-layang di tangannya, tak ada yang bisa merebutnya. Ini bukanlah peraturan. Ini adalah tradisi."--Halaman 78

Kalimat itu membuat cerita di dalam novel ini terasa begitu dekat. Karena tahun lalu, hampir setiap hari ada bocah yang berburu layang-layang di belakang rumah kami. Mungkin karena depan rumah adalah lapangan sehingga rumah kami merupakan spot paling sering layang-layang jatuh. Dan betul-betul sama, siapapun yang memegang layang-layang jatuh itu, maka dialah pemiliknya.  

Awalnya kisah persahabatan antara Amir dan Hassan itu tampak biasa saja. Tapi ada satu kejadian yang jadi kunci dalam novel ini yang membuatku sangat penasaran dengan ujungnya. Persahabatan antara Amir dan Hassan secara implisit juga menggambarkan strata sosial masyarakat Afganistan pada era itu. 

Dari novel ini akhirnya aku betul-betul paham apa itu Taliban. Karena sebelumnya walaupun sudah membaca dari berita terasa jauh dan sulit ku pahami terutama tentang tujuan mereka. 

"Misi apa? Merajam pezina? Melecehkan anak-anak? Mencambuki wanita gara-gara sepatu hak tinggi? Membantai kaum Hazara? Semua atas nama Islam?"-- Halaman 378

Membaca kisah taliban dalam novel membuatku seperti benar-benar berada dalam situasi itu. Menyaksikan praktik hukum rajam di depan mata seperti melihat pertunjukan topeng monyet. Tampak biasa dan seolah sah dilakukan atas nama agama. Bagaimana mungkin manusia bertindak seolah dirinya seperti Tuhan. Sangat menyebalkan.

Novel yang terdiri dari 490 halaman ini juga menggambarkan bagaimana anak-anaklah yang paling terdampak ketika terjadi peperangan. Apa yang kita sebut sebagai dunia yang ramah anak adalah bagian penting dari hak asasi manusia jika kita membaca kisah peperangan.

"Kalau kau membunuh seorang pria, kau mencuri kehidupannya. Kau mencuri seorang suami dari istrinya, merampok seorang ayah dari anak-anaknya. Kalau kau berbohong, kau mencuri hak seseorang untuk mendapatkan kebenaran. Kalau kau berbuat curang, kau mencuri hak seseorang untuk mendapatkan keadilan. Tak ada tindakan yang lebih hina daripada mencuri."-- Baba -- Halaman 147

Aku setuju kalau ada yang menyebutkan tidak ada tokoh yang sia-sia di dalam novel ini. Semua karakternya seperti jadi pemeran utama dan menentukan jalan cerita. Kerapuhan demi kerapuhan menjadi kisah yang begitu berkesan bagiku, apalagi jika itu terjadi pada laki-laki. Aku seperti menemukan sisi yang lain dari seorang laki-laki. Menangis, trauma, dan hidup menderita akan dosa-dosa di masa lalu.

Tangisku pecah saat membaca kisah-kisah dari karakter Sohrab. Sungguh memilukan. Lahir dari ayah dan ibu yang punya hati mulia, diasuh dengan kasih sayang, ternyata tak cukup membuatnya memiliki kehidupan yang layak. Jiwanya sudah direnggut sejak masa kanak-kanak. Tinggal raga yang bertahan hidup entah demi apa. 

".. yang ku anggap sebagai persetujuan darinya tidak lain hanyalah penyerahan tanpa perlawanan, sikap menerima yang muncul sebagai wujud penyerahan seseorang yang terlalu lelah untuk memutuskan, dan terlalu letih untuk memercayai..." Halaman 470

Bagi Amir Layang-layang adalah media untuk menguatkan relasi yang rapuh dengan sang ayah. Tapi layang-layang juga yang membuat persahabatannya dengan Hassan menjadi trauma yang menghantui sepanjang hidup. Lalu layang-layang kembali padanya di kehidupan dewasa yang menyembuhkan. Ini benar-benar novel istimewa tentang layang-layang. Bahkan menuliskan paragraf terakhirnya membuatku ingin menangis lagi.

The Kite Runner jadi salah satu novel terjemahan terbaik yang pernah aku baca. Novel ini sangat aku rekomendasikan untuk siapapun terutama bagi pecinta kisah-kisah menyentuh. Bahasanya sangat ringan tapi bisa menjelaskan keadaan yang rumit dan memilukan. Rasanya seperti merasakan apa yang dialami tokoh-tokoh di dalamnya.

0 Response to "Review Novel The Kite Runner: Potret Persahabatan dan Trauma di Tengah Konflik Afghanistan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel