Karhutla Bukan Sekadar Kebakaran Hutan: Ekosistem dan Ketahanan Pangan Juga Jadi Taruhan


Hari-hari sekarang, linimasa dipenuhi tentang trend instagram story tentang karhutla. Setiap harinya ada banyak gambar-gambar terkini tentang Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan). Dari Kalimantan hingga Sumatera. Pengen menikmati hari dengan update kegiatan sehari-hari atau sekadar kemenangan kecil, tapi hati rasanya tak mampu. Mending ikutan posting kabar dampak Karhutla yang semakin hari semakin menyesakkan saja.

Ada banyak hal kompleks yang perlu kita jabarkan ketika membahas Karhutla. Kebetulan aku ikut Online gathering #ecobloggersquad yang kedua dengan tema "Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan." Sebuah tema yang sangat relevan untuk situasi akhir-akhir ini.

Karena ternyata karhutla bukan sekadar kebakaran hutan, tapi ada ekosistem dan ketahanan pangan juga yang jadi taruhan. Bagi kita yang tidak tinggal berdekatan dengan lokasi karhutla, aku akan coba menjabarkan bagaimana karhutla sulit dipadamkan dan dampaknya di kehidupan mendatang.

Mengenal Karhutla dan Mengapa Bisa Terjadi

Karhutla adalah akronim dari Kebakaran Hutan dan Lahan. Yoga Aprilio dari Pantai Gambut menyampaikan bahwa sebaiknya kita tidak hanya menggunakan istilah "kebakaran hutan" tapi "karhutla" karena yang terbakar memang bukan cuma hutan tapi juga lahan. Lahan gambut lebih tepatnya.

Indonesia adalah rumah bagi ekosistem gambut tropis terbesar dunia dengan 24,2 juta hektare yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua.Ekosistem gambut merupakan lahan basah yang terbentuk dari tumpukan bahan organik selama ribuan tahun. Ekosistem ini memiliki peran penting dalam mengatur iklim karena mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar.

Lahan gambut yang telah mengalami kerusakan sulit untuk kembali ke kondisi awalnya. Hal ini disebabkan oleh perubahan tata air, struktur tanah, serta hilangnya sebagian cadangan karbon yang terlepas ke atmosfer.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menghasilkan asap berkepanjangan juga bisa menjadi tanda terjadinya kebakaran di lahan gambut. Pasalnya, api tidak hanya membakar permukaan tanah, tetapi juga dapat merambat dan terus membara di lapisan gambut bawah tanah dalam waktu yang lama.

Masih banyak yang menganggap lahan gambut adalah lahan kosong yang tidak produktif jika dibiarkan saja. Sehingga aktivitas alihfungsi lahan gambut menjadi perkebunan dilakukan. Alihfungsi lahan gambut dilakukan dengan membuat kanal-kanal untuk mengeringkan airnya. Aktivitas pembukaan lahan perkebunan lebih mudah ketika air lahan gambut telah kering.

Ketika lahan gambut menjadi kering, maka lapisan ranting-ranting yang ada di dalamnya mudah terbakar. Kemudian kemarau panjang atau El  nino akan mempercepat penyebaran api dari satu titik ke titik lainnya dan meluas. 


Mengapa karhutla sulit dikendalikan?

Mungkin banyak orang awam berpikir bahwa El nino menjadi penyebab utama karhutla. Padahan El nino bukanlah penyebab utamanya, melainkan faktor pendukung ketika gambut yang telah kering tadi lebih mudah terbakar.

Lahan gambut memiliki karakteristik khas berupa kemampuan menyerap dan menyimpan air dalam jumlah besar. Bahkan, gambut mampu menampung air hingga 13 kali berat keringnya, jauh lebih tinggi dibandingkan tanah mineral yang hanya mampu menyerap sekitar 0,2 kali berat keringnya.

Namun, alih fungsi lahan gambut dapat mengurangi kemampuan alaminya dalam menyerap dan mengatur aliran air. Akibatnya, keseimbangan tata air terganggu dan risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir, menjadi semakin tinggi.

Bukan Cuma Pohon yang Hilang, Biodiversitas Terancam, Ekosistem dan Ketahanan Pangan Juga Jadi Taruhan

Hutan dan Ekosistem gambut merupakan rumah bagi hewan-hewan endemik dan tanaman lokal yang sejak dulu telah menghidupi masyarakat. Lahan gambut mengandung lapisan mineral "pirit"  yang dalam kondisi kondisi terendam air. Pirit tidak akan memberikan dampak apa-apa.

Tapi, ketika gambut kering, mineral ini akan bersentuhan dengan oksigen (teroksidasi). Oksidasi pirit (FeS₂) akan menghasilkan asam sulfat (H₂SO₄) dan asam sulfida (H₂S), membuat tanah menjadi sangat asam (pH 2-3). Tanah asam ini ikut terlarut ke kanal dan sungai besar. Tanaman dan binatang di sungai bisa keracunan.

Ketika ekosistem gambut terganggu, banyak hewan mati dan tentu saja itu sangat mempengaruhi rantai makanan. Biodiversitas jadi hilang dan masyarakat lokal kelimpungan karena kedaulatan pangannya terganggu. 

Ahmad Arif, seorang Jurnalis Kompas yang menginisiasi gerakan Nusantara Biodiversity yang turut menjadi pemantik dalam diskusi soal pangan di Online Gathering Ecoblogger kali ini juga banyak bercerita tentang pangan lokal  leluhur Indonesia.

Arif bercerita bahwa zaman dulu tidak hanya orang Papua yang mengonsumsi Sagu. Orang Jawa, Sumatera dan Kalimantan dan kemungkinan daerah lain juga mengonsumsi Sagu. Karena pohon sagu bisa tumbuh dengan baik di lahan gambut. Tanpa harus mengeringkan lahannya. Sehingga biodiversitas tetap terjaga.

Kedaulatan pangan lokal telah cukup mengenyangkan tanpa harus impor. Namun, program swasembada pangan telah banyak mengubah sudut pandang kita soal kebiasaan makan. Seperti "Belum kenyang kalau belum makan nasi." Padahal seperti kita tahu, Indonesia punya banyak jenis karbohidrat kompleks yang bergizi tinggi. Seperti, uwi, suweg, sagu, porang, talas/keladi, gadung, ganyong, gembili dan kimpul. 

Mungkin sebagian besar gen  Z yang saban hari malang melintang di dunia tiktok sudah tidak asing dengan kimpul. Ada ibu-ibu yang mempopulerkan kimpul yang diolah jadi beragam menu. Sampai dijuluki Ibu Kimpul.

Sampai Ahmad Arif melontarkan pernyataan menarik dan mungkin banyak orang termasuk aku langsung tertohok. "Indonesia itu sebenarnya bisa kenyang tanpa beras dan gandum." Duar!

Sebagai seorang gen Z yang comfort foodnya ayam geprek dan mie ayam ini, aku langsung yakin bahwa selama ini telah menjadi korban gastrokolonial. Ternyata selera kita selama ini telah dikendalikan penguasa.

Menikmati Olahan Umbi-umbian di Rumah Nenek dan Rindu yang Tak Terbayarkan



Mungkin sudah 19 tahun yang lalu ketika aku masih tinggal di  rumah kakek dan nenekku. Di belakang rumah tumbuh merambat uwi dan gembili yang kadang di ambil dan dikukus untuk camilan kami. Aku masih ingat uwi yang belum dikupas punya bintil-bintil yang bentuknya hanya bisa ku lihat lewat google karena setelah dewasa aku tidak pernah menjumpainya. 

Begitu juga suweg kukus yang rasanya gurih-gurih gatal di mulut. Begitulah aku mendefinisikannya. Karena seingatku hanya menu kukusan itu bentuk kreasi nenek. Pohonnya yang bercorak putih dan bisa bikin gatal sering kami namai sebagai pohon panuan. Sekarang aku bahkan tidak pernah melihat pohon suweg. Sama seperti aku tidak pernah bertemu dengan kakek dan nenekku lagi. 

Ternyata anak gen Z ini punya kesempatan untuk mencicipi berbagai umbi-umbian yang merupakan karbohidrat penuh gizi. Walaupun umbi-umbian itu hanya dijadikan camilan, karena ketika itu keluarga kami juga sudah menjadikan nasi sebagai makanan utama.

Satu-satunya olahan umbi yang aku coba dalam berbagai bentuk adalah singkong. Masih banyak memori tentang olahan singkong di rumah nenek. Bahkan sampai sekarang kita masih bisa menjumpainya dan menikmatinya. Seperti gatot dan tiwul.

Nenek dan ibuku biasa mengawetkan singkong dengan membuat gaplek. Gaplek nantinya akan dibuat nasi tiwul dan sebagian lagi bisa dibuat cemilan yang namanya gathot. Nasi tiwul yang kering bisa disimpan sampai berbulan-bulan seperti beras. Lalu bisa kita konsumsi dengan berbagai lauk dan jadi santapan yang lezat serta mengenyangkan.

Tapi sayangnya, sekarang harga tiwul bisa lebih mahal dari beras karena tidak banyak yang memproduksinya lagi. Sebagian besar dari kita memang sudah jadi pecinta nasi sehingga tiwul hanyalah makanan untuk mengobati rasa rindu dengan masa lalu. 

Menjaga Hutan Berarti Menjaga Biodiversitas dan Masa Depan Pangan


Ahmad Arif berpesan bawah biodiversitas adalah kuncinya. Keberagaman adalah kuncinya. Jadi kita tidak perlu berlomba-lomba untuk seragam. Karena memang alam Indonesia inni punya karakteristik yang berbeda-beda. Tidak perlu memaksa semua daerah jadi sawah dan tidak harus setiap hari makan nasi. Karena kita bisa mencoba banyak umbi-umbian lokal yang mengenyangkan dan padat gizi.

Menjaga hutan dan lahan berarti ikut menjaga ekosistem floran dan fauna di dalamnya. Kita masih bisa membiarkan hewan-hewan endemik hidup lebih lama agar anak cucu juga bisa melihatnya. Pun mereka juga bisa menikmati olahan dari tanaman lokal yang bergizi. 

Hari inni kita sedang berjuang melawan gastrokolonial. Selera kita sedang dijajah. Maka kita perlu memperkenalkan anak-anak kita dengan tanaman lokal seperti umbi-umbian, sagu, sorgum dan lain lainnya. Mengajarkan bahwa keberagaman itu anugerah yang harus dijaga. 

Kalau kita mau menjaga Indonesia sebagai paru-paru dunia, maka tagar #peatlandisnotwasteland perlu disuarakan lebih banyak lagi. Supaya semakin banyak orang menyadari bahwa lahan gambut punya peran yang sangat penting bagi keseimbangan ekosistem dan biodiversitas. 

0 Response to "Karhutla Bukan Sekadar Kebakaran Hutan: Ekosistem dan Ketahanan Pangan Juga Jadi Taruhan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel