Nggak Cuma Bikin Teduh, Tanaman Ini Ternyata Punya “Double Job”
![]() |
| sumber gambar : pesona papua |
Di umur berapa kalian tahu, kalau ternyata mangrove itu bukan sekadar tumbuhan yang menjaga pesisir pantai dari abrasi, tapi juga sebagai sumber pangan lokal?
Jujurly, aku baru tahu kalau beberapa jenis buah mangrove bisa diolah jadi beragam makanan yang menopang kehidupan masyarakat pesisir setelah mendengarkan cerita Bung Wawiyai Steve waktu ikutan online gathering #ecobloggersquad pertamanya di tahun 2026 ini. Webinar ini mengusung tema "Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat." Eco Blogger Squad kali ini berkolaborasi dengan The Asia Foundation (TAF) dan melakukan tap-in momentum Bangkok Climate Action Week.
Mendengar cerita inspirasi dari Bung Steve, sebenarnya aku berpikir bahwa bagi masyarakat pesisir Kampung Friwen Raja Ampat terutama perempuan, aksi nyata merawat mangrove bukan sekadar menunggu momentum. Setiap hari mereka hidup berdampingan dengan mangrove dan langsung terdampak perubahan iklim.
Menurut cerita Wawiyai Steve, Program Manager Perkumpulan Kawan Pesisir Raja Ampat (PKPRA), ketika diskusi soal ketahanan pangan lokal bareng Eco Blogger Squad, mangrove telah menjadi bagian penting bagi masyarakat peisir, tidak hanya sebagai pelindung di pesisir pantai tapi juga sumber pangan lokal.
The Asia Foundation melalui Program PAPeDA, PKPRA bersama masyarakat mulai mencari cara sederhana untuk mengelola mangrove dengan lebih bijak. Mereka sadar bahwa himbauan bahkan larangan untuk tidak merusak ekosistem mangrove perlu dibuat lebih kreatif dan inovatif. Semacam ada yang mereka dapatkan secara langsung ketika merawat ekosistem mangrove.
Mangrove, Penjaga Pesisir yang Bisa Jadi Sumber Pangan
Perempuan memiliki andil yang sangat besar dalam penggolahan buah mangrove menjadi beraneka ragam pangan. Hingga menghasilkan nilai ekonomi. Melalui tangan ajaib mereka buah mangrove menjadi sajian lezat kebanggaan Kampung Friwen dan mendatangkan nilai ekonomi. Sehingga mangrove benar-benar memberi kehidupan di masa sekarang dan masa yang akan datang.
Tahun 2018 masyarakat adat di Kampung Friwen resah akibat degradasi mangrove karena adanya pengambilan kayu untuk kebutuhan pembangunan homestay dan resort. Kemudian mereka mulai melakukan pemetaan partisipatif, melakukan identifikasi jenis mangrove (tentu saja perlu karena tidak semua buah mangrove dapat dikonsumsi. Hingga akhirnya dilakukan pelatihan pengolahan produk mangrove sebagai bahan pangan lokal.
Sumber Pangan dari Ekosistem Mangrove
1. Protein Hewani
Ekosistem mangrove yang terjaga dengan baik menjadi rumah bagi berbagai jenis biota laut, termasuk kepiting bakau dan moluska seperti kerang. Akar mangrove yang rapat menyediakan tempat berlindung dan mencari makan bagi biota tersebut, sehingga keberadaan mangrove ikut mendukung kehidupan mereka.
Bagi masyarakat pesisir, keberadaan kepiting, kerang, dan hasil laut lainnya bukan hanya berkaitan dengan keseimbangan ekosistem, tetapi juga dapat menjadi sumber pangan bergizi. Kandungan protein, mineral, serta berbagai nutrisi di dalamnya dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari.
Karena itu, menjaga mangrove sebenarnya juga berarti menjaga salah satu sumber pangan yang berada di sekitar masyarakat. Ketika ekosistemnya sehat, kehidupan biota di dalamnya dapat terus berlangsung dan manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat secara berkelanjutan.
2. Pemanfaatan Buah Mangrove
a. Pengolahan Buah Mangrove Menjadi Tepung
Salah satu bentuk pemanfaatan mangrove sebagai sumber pangan adalah mengolah buah Bruguiera gymnorrhiza atau yang dikenal sebagai lindur menjadi tepung. Buah ini dapat diolah melalui beberapa tahapan hingga menghasilkan tepung yang kemudian bisa dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pangan lokal.
Tepung dari buah lindur berpotensi digunakan sebagai substitusi sebagian bahan karbohidrat, misalnya dalam pembuatan kue, makanan olahan, atau produk pangan lainnya. Pemanfaatan seperti ini menarik karena masyarakat tidak hanya menjaga keberadaan mangrove, tetapi juga bisa mengenali potensi pangan yang berasal dari lingkungan mereka sendiri.
Namun, buah mangrove tidak bisa langsung dikonsumsi begitu saja. Pengolahannya perlu dilakukan dengan tepat, termasuk proses penghilangan atau pengurangan senyawa alami yang dapat menyebabkan rasa pahit atau tidak aman jika dikonsumsi dalam jumlah tertentu. Karena itu, pengolahan buah lindur menjadi tepung membutuhkan pengetahuan dan proses yang sesuai agar menghasilkan bahan pangan yang aman dan layak digunakan.
Pada akhirnya, pemanfaatan buah mangrove sebagai tepung menunjukkan bahwa mangrove memiliki “double job”: membantu menjaga ekosistem pesisir sekaligus menyimpan potensi sebagai sumber pangan lokal.
b. Produksi Minuman Tradisional
Selain diolah menjadi tepung, buah mangrove juga memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan dasar minuman tradisional. Sari buah dari jenis mangrove tertentu dapat diolah menjadi sirup atau minuman yang memiliki cita rasa khas dan menjadi alternatif pemanfaatan pangan lokal.
Pengolahan ini membuat buah mangrove tidak hanya dipandang sebagai bagian dari ekosistem pesisir, tetapi juga sebagai bahan yang memiliki nilai guna dan berpotensi memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Jika dikembangkan dengan pengolahan yang tepat, produk seperti sirup mangrove juga dapat menjadi salah satu bentuk diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal.
Beberapa jenis buah mangrove diketahui mengandung senyawa bioaktif dan antioksidan, tetapi kandungan serta manfaatnya berbeda-beda tergantung spesies dan proses pengolahannya. Karena itu, lebih aman menyebutnya sebagai minuman yang berpotensi mengandung antioksidan, bukan langsung mengklaim sebagai “minuman kesehatan” yang memiliki efek medis.
Menariknya, pemanfaatan seperti ini memperlihatkan sisi lain dari mangrove. Tanaman yang selama ini dikenal sebagai pelindung pesisir ternyata juga bisa memiliki nilai pangan dan ekonomi bagi masyarakat, selama pemanfaatannya dilakukan secara bijak dan tidak mengorbankan kelestarian ekosistem.
Tidak lupa Pemanfaatan Ruang Kelola dipetakan sedemikian rupa agar pengolahan buah mangrove jauh dari aktivitas eksploitasi yang justru menjadi bumerang.
c. Pembuatan Camilan Lokal
Buah mangrove juga bisa dikembangkan menjadi berbagai produk camilan lokal, seperti kue, keripik, atau makanan ringan lainnya. Setelah melalui proses pengolahan yang tepat, buah mangrove dapat diolah menjadi bahan pangan yang memiliki cita rasa dan karakteristik tersendiri.
Pengembangan produk seperti ini menarik karena bahan yang sebelumnya mungkin kurang dikenal masyarakat bisa memiliki nilai tambah ketika diolah menjadi produk siap konsumsi. Apalagi jika dikemas dengan menarik dan dipadukan dengan cerita tentang asal-usul bahan bakunya, camilan berbasis mangrove bisa menjadi salah satu bentuk produk pangan lokal yang unik.
Tidak hanya soal makanan, pengembangan camilan berbasis buah mangrove juga berpotensi membuka peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat pesisir. Masyarakat dapat terlibat mulai dari pengolahan, produksi, pengemasan, hingga pemasaran produk.
Namun, sama seperti pemanfaatan buah mangrove lainnya, tidak semua jenis mangrove dapat langsung dikonsumsi. Jenis buah, cara pengolahan, dan keamanan pangan perlu diperhatikan agar produk yang dihasilkan benar-benar aman untuk dikonsumsi.
Pada akhirnya, pemanfaatan buah mangrove menjadi camilan menunjukkan bahwa menjaga alam dan mengembangkan ekonomi masyarakat sebenarnya bisa berjalan beriringan. Mangrove tetap dijaga sebagai ekosistem, sementara potensinya sebagai pangan lokal dapat dimanfaatkan secara bijak dan berkelanjutan.
Membedah mangrove sebagai sumber pangan memang menarik dan kadang membuat perut auto lapar terus pengen mencoba olahan mangrove secara langsung. Tapi kita juga tidak boleh lupa selain sebagai sumber pangan lokal, Mangrove punya banyak peranan penting.
Keanekaragaman Hayati Mangrove di Raja Ampat
1. Rumah bagi berbagai biota laut
Akar mangrove yang lebat dan saling berkelindan menjadi tempat berlindung sekaligus berkembang biak bagi beragam jenis biota laut. Keberadaan ekosistem ini turut membantu menjaga keseimbangan alam di perairan Papua yang begitu kaya akan keanekaragaman hayati.
2. Kekayaan Spesies
Raja Ampat merupakan salah satu wilayah dengan ekosistem mangrove yang masih sangat terjaga. Keberagaman tumbuhan pesisir di kawasan ini turut mendukung ketersediaan sumber makanan bagi masyarakat dan menjaga keberlangsungan rantai pangan lokal.
3. Laboratorium Alam
Ekosistem ini menjadi tempat hidup bagi berbagai biota endemik yang tidak dapat ditemukan di wilayah lain. Keunikan tersebut menjadikan ekosistem ini begitu berharga bagi penelitian, ilmu pengetahuan, sekaligus kelestarian lingkungan.
Hubungan Mangrove dan Stok Ikan
Mangrove ternyata punya hubungan yang cukup erat dengan keberadaan ikan di wilayah pesisir. Ekosistem ini bukan sekadar kumpulan pohon yang tumbuh di antara daratan dan laut, tetapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan berbagai biota laut.
1. Ekosistem pembibitan alami
Akar mangrove yang rapat dan bercabang menciptakan ruang yang aman bagi ikan-ikan kecil, udang, kepiting, dan berbagai biota laut lainnya untuk berlindung dan tumbuh. Kawasan mangrove juga menjadi tempat bagi sebagian biota untuk berkembang biak sebelum akhirnya berpindah ke perairan yang lebih luas. Karena itu, mangrove sering dianggap sebagai tempat pembesaran alami bagi berbagai jenis ikan.
2. Ketersediaan nutrisi organik
Daun dan bagian mangrove yang gugur tidak begitu saja menjadi sampah. Material organik tersebut akan terurai dan menjadi sumber nutrisi bagi organisme kecil di perairan. Organisme-organisme ini kemudian menjadi bagian dari rantai makanan yang mendukung kehidupan ikan dan biota laut lainnya. Jadi, secara sederhana, apa yang jatuh dari pohon mangrove bisa ikut menopang kehidupan di dalam air.
3. Pengaturan kualitas air
Mangrove juga membantu menjaga kondisi perairan di sekitarnya. Akar dan vegetasinya dapat membantu memperlambat aliran air sekaligus menangkap sedimen dan sebagian material yang terbawa dari daratan. Dengan kondisi perairan yang lebih terjaga, lingkungan tersebut menjadi lebih mendukung bagi kehidupan ikan dan organisme air lainnya.
Setelah melalangbuana menjelajahi hutan mangrove dan perannya yang begitu besar di berbagai lini kehidupan masyarakat pesisir. Kita juga perlu merenungkan kehadiran berbagai pohon dan tumbuhan di sekitar kita. Yang ternyata juga punya "double job" seperti mangrove.
Lamtoro, Tanaman Pinggir Sawah yang Sering Kita Abaikan
Kalau mangrove identik dengan wilayah pesisir, lamtoro justru lebih mudah ditemui di lingkungan sekitar kita. Pohon ini sering tumbuh di tepi sungai, pematang sawah, kebun, atau lahan terbuka. Karena sudah begitu akrab dengan pemandangan sehari-hari, keberadaannya mungkin terasa biasa saja. Padahal, lamtoro punya sejumlah manfaat yang membuatnya layak untuk lebih diperhatikan.
Lamtoro dapat membantu menjaga kondisi tanah dan lingkungan di sekitarnya. Tajuknya bisa memberikan keteduhan, sementara keberadaannya sebagai tanaman penutup dan pohon pagar juga dapat membantu mengurangi paparan langsung pada tanah. Di sisi lain, bagian tertentu dari lamtoro, terutama bijinya, secara tradisional juga dimanfaatkan sebagai bahan pangan setelah melalui pengolahan yang tepat.
Menariknya, keberadaan lamtoro di pinggir sawah membuat kita bisa melihat bahwa konsep tanaman yang punya “double job” ternyata dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari. Ia bukan hanya tumbuh begitu saja di pematang, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekologis sekaligus memiliki potensi sebagai sumber pangan lokal. Dari sini saya jadi sadar, mungkin selama ini ada banyak tanaman di sekitar kita yang sebenarnya punya cerita dan manfaat lebih besar daripada yang kita sadari.
Buatku sendiri, lamtoro bukan sekadar tanaman yang sering kulihat di pinggir sawah. Ada kenangan masa kecil yang ikut tumbuh bersamanya, yaitu bothok lamtoro buatan nenek. Rasanya sederhana, tetapi entah kenapa selalu punya tempat tersendiri di ingatan. Setiap kali melihat pohon lamtoro atau mencium aroma masakan yang mengingatkan pada bothok, rasanya seperti diajak pulang sebentar ke dapur nenek.
Mungkin karena sekarang semakin jarang menemukan orang yang mengolah lamtoro menjadi makanan, apalagi ketika sudah tinggal di kota dan jauh dari kampung halaman. Padahal, dulu bahan yang tumbuh di sekitar rumah bisa dengan mudah diolah menjadi lauk untuk keluarga. Dari bothok lamtoro buatan nenek, aku jadi sadar bahwa tanaman yang terlihat sederhana pun bisa menyimpan cerita, cita rasa, dan kearifan pangan lokal yang sayang kalau perlahan hilang begitu saja.
Dua Tanaman, Dua Peran yang Sering Kita Lewatkan
Mangrove di pesisir Raja Ampat dan lamtoro di sekitar sawah mungkin tumbuh di tempat yang berbeda, tetapi keduanya mengajarkan hal yang sama: tanaman di sekitar kita bisa punya lebih dari satu manfaat.
Mangrove membantu menjaga ekosistem pesisir sekaligus mendukung kehidupan biota laut dan menyediakan potensi sumber pangan. Sementara lamtoro yang sering kita jumpai di pematang sawah atau tepi sungai juga memiliki manfaat bagi lingkungan dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan lokal.
Kadang kita terlalu terbiasa melihat tanaman di sekitar sampai lupa memperhatikan manfaatnya. Padahal, dari mangrove di pesisir hingga lamtoro di kampung halaman, alam sudah menyediakan banyak hal untuk kehidupan manusia.
Mungkin yang perlu kita lakukan bukan hanya mengambil manfaatnya, tetapi juga belajar mengenali, menjaga, dan memanfaatkan tanaman tersebut dengan bijak, supaya perannya tetap bisa dirasakan oleh generasi berikutnya.
Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan
Bagi masyarakat pesisir, hutan mangrove bukan sekadar kumpulan pohon yang tumbuh di tepi laut. Ekosistem ini terhubung langsung dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari tempat hidup berbagai biota laut hingga sumber pangan yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Karena itu, ketika mangrove tetap terjaga, sumber pangan yang bergantung pada ekosistem tersebut juga memiliki peluang untuk terus tersedia.
Hal ini menjadi semakin penting bagi masyarakat adat di pesisir Kampung Friwen, Raja Ampat. Keberadaan mangrove dan laut di sekitarnya menjadi bagian dari ruang hidup masyarakat. Menjaga hutan berarti ikut menjaga ikan, kepiting, kerang, maupun potensi pangan dari tumbuhan mangrove yang bisa dimanfaatkan secara bijak.
Pada akhirnya, menjaga mangrove bukan hanya tentang menyelamatkan lingkungan untuk hari ini, tetapi juga memastikan sumber pangan tetap tersedia untuk generasi berikutnya. Sebab, ketika hutan pesisir sehat, kehidupan masyarakat yang bergantung padanya pun punya kesempatan untuk terus berjalan secara berkelanjutan.
Kalau di pesisir ada mangrove yang punya peran penting bagi masyarakat, di tempat tinggalku aku justru sering menemukan pohon lamtoro di tepi sungai atau pematang sawah. Sekilas, pohon ini mungkin terlihat biasa saja dan sering luput dari perhatian. Padahal, keberadaannya juga punya manfaat bagi lingkungan sekaligus menyimpan potensi sebagai sumber pangan lokal.
***
#theasiafoundation #TAFIndonesia #merawatmimpi #menumbuhkaninspirasi
@ecobloggersquad @theasiafoundation @kawanpesisirr4



0 Response to "Nggak Cuma Bikin Teduh, Tanaman Ini Ternyata Punya “Double Job”"
Post a Comment