Review Buku Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat


Penjualan buku self improvement dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan. Khususnya buku-buku terjemahan. Tidak heran jika Buku Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat ini best seller versi New York Times dan Globe and Mail.

Sesuai dengan genrenya buku ini cocok bagi orang-orang yang memerlukan asupan pengembangan diri. Terutama bagi orang-orang berusia 20-an yang sedang mengalami quarter life crisis. Maka dengan membacanya kita akan dibawa healing bersama logika-logika aneh Mark Manson.

Memang benar sekali, jika beberapa orang merasa tertampar-tampar ketika membaca buku ini. bagaimana tidak, konten di dalamnya tidak memberi terapi atau sugesti bahwa seseorang baik-baik saja dalam kondisi tertentu.

Penulis justru menyatakan bahwa memang begitulah kenyataan yang harus dihadapi. Maka jangan berusaha, tidak usah merasa istimewa, dan hidupmu memang tidak baik-baik saja.

Kemewahan teknologi terus memaksa kita tersenyum pada setiap feed sosial media kita. Ketika pagi hari atau sore hari setelah pulang kerja, kita bersantai sambil scroll sosial media dan menyaksikan kabar gembira seperti banjir bandang. Akibatnya, lama kelamaan kita terserang penyakit insecure atau merasa rentan, merasa kita tidak punya pencapaian apa-apa selama ini.

Tidak jarang, muncul perasaan rendah diri bahwa selama ini tidak produktif sama sekali. Padahal apasih produktif itu?

“Setiap Orang tidak akan mampu menjadi expert dalam banyak hal. Ia akan menjadi ahli dalam satu hal saja. Dimana ia mencurahkan waktu dan energi lebih besar terhadap yang lain.”
“Banjir bandang informasi ekstrem ini telah mengkondisikan kita untuk percaya bahwa keistimewaan adalah suatu standar kenormalan baru.”---68
Akibatnya kita jadi berusaha yang paling istimewa. Apapun yang kita capai serasa tidak berguna. Kita jadi berpikir bagaimana orang lain memandang kita. Istimewa atau tidak? Padahal ya buat apa? Udahlah bodo amat aja.
“Mengenang suatu keistimewaan membuat orang-orang merasa lebih buruk tentang diri mereka sendiri, membuat mereka merasa bahwa mereka harus menjadi lebih ekstrem, lebih radikal, dan lebih percaya diri agar bisa diperhatikan atau bisa diperhitungkan.”---70
Membaca buku ini memberi pelajaran bahwa apapun yang terjadi, tidak ada yang bisa dipaksa. Jika saat itu datang suatu kesedihan memang seperti itulah kenyataan yang kita jalani. Sebab hidup tidak mungkin selalu bahagia. Karena kebahagiaan itu sendiri adalah sebuah masalah.
“Jika penderitaan tidak bisa ditolak, jika permasalahan dalam kehidupan kita tidak dapat dihindari, pertanyaan yang harus kita ajukan bukan “Bagaimana menghentikan penderitaan?” Tapi “Mengapa saya menderita—demi tujuan apa?”---81
Secara sederhana Mark Manson Mengajarkan kita pada tiga hal. Pertama, berhenti mempedulikan sesuatu yang tidak penting dan bergegas fokus terhadap tujuan kita. Kedua, Kita harus belajar memilah mana yang harus mendapat perhatian dan mana hal yang harus di bodo amat kan saja. Ketiga, sejatinya kadang hidup menyebalkan dan hal yang paling sehat untuk dilakukan adalah mengakuinya.
Judul Buku          : Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat
Penulis                 : Mark Manson
Penerbit              : Grasindo
Tahun Terbit      : 2018
Tebal                     : 246 halaman
Pereview            : Ririn Erviana

5 Responses to "Review Buku Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat"

  1. Wah keren juga bukunya, next time mungkin jdi plan isi rak rumah saya.

    Salam, jangan lupa mampir juga ya
    mlanapedia.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. asli keren harus banget jadi list reading.

      siap meluncur

      Delete
  2. Beberapa konten blog sy juga bahas tentang sikap bodo amat.... mulai dari cara bersikap bodo amat, sisi positif sikap bodoh amat, dan 3 seni bersikap bodo amat.... ­čśé

    ReplyDelete
  3. Wah penasaran dengan buku ini, sepertinya menarik hehe saya suka buku2 dengan tema pengembangn diri ..jangan lupa mampir mba
    www.bacabukuyuk.my.id

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel