Tentang Sahabat Laki-laki

Tida~ punya foto bareng dia waktu itu hehe
Dia adalah sahabat kuliah dari semester satu. Aku tidak pernah menyangka kita akan merawat persahabatan ini sampai semester akhir. Apalagi mitos yang akrab dengan kita adalah 'tidak ada persahabatan murni antara laki-laki dan perempuan, hanya tinggal menunggu waktu siapa yang lebih dahulu jatuh'. Aku tak sepenuhnya percaya dengan adagium itu, tapi aku juga belum pernah membuktikannya. Karena sebelumnya memang tak memiliki sahabat laki-laki. 


Aku hanya berharap kita akan tetap baik-baik saja sampai kapanpun. Saling membantu satu sama lain. Tetap seru-seruan tanpa ada kata baperan. Soalnya bakal banyak banget cerita kekonyolan kami di dinding ini. Tidak bisa diselesaikan dengan singkat.



Perjumpaan kami bermula ketika tugas kelompok mata Kuliah Fiqh Ibadah. Satu kelompok terdiri dari tiga orang, Aku, dia dan Amril. Bagiku dia adalah cowok terpolos di kelas saat itu. Rasanya aku tak pernah mendengar ia mengeluarkan suara atau memberi pendapat saat diskusi. Tapi semenjak satu kelompok, aku jadi tahu kalau sebenarnya dia tidak sependiam yang aku kira selama ini.

Kami mengantar makalah sampai harus ke Rumah dosennya. Ini semua gara-gara Fajar juga sih. Seandainya dia nggak terlambat, pasti makalahnya sudah bisa di kumpul ke bapaknya tiga hari sebelum persentasi tanpa perlu mengantar ke rumahnya. Tapi dari situlah persahabatan kami dimulai.

Dari pagi sampai sore kita muter-muter Pekalongan untuk mencari rumah dosen. Jadi ceritanya tipikal dosen ini, kami harus mengumpulkan makalah minimal 3 hari sebelum persentasi. Nah persentasi kami hari senin, jumatnya minimal di kumpul. Tapi pada hari itu Fajar malah telat, dan bapaknya udah nggak ada di kampus lagi. Otomatis kita harus nymperin ke rumahnya. Amril tidak bisa turut serta bersama kami karena dia di pondok, jadi tidak bisa seenaknya jika ingin keluar.

Daripagi aku muter-muter mencari rumah dosen. Kami menuju pekalongan sesuai alamat yang tertera di CV bapaknya sewaktu kontrak kuliah. Sampai di sana rumahnya kosong, barangkali bapaknya sudah berangkat jumatan. Tetiba bapaknya SMS, disuruh nitipin ke rumah beliau yang di tawes saja. Hadeh padahal udah jauh-jauh ke Pekalongan. 

Akhirnya kami memutuskan pulang dulu, dan akan mencari rumah bapaknya nanti setelah ashar. Sore itu pas kami berangkat mendung tebal sekali. Sudah dapat dipastikan akan turun hujan. Tapi bagaimana lagi kami harus tetap mengumpulkan makalah hari itu juga. Apapun yang terjadi. 

Kamipun nekat hujan-hujanan bertanya ke sana-sini mencari rumah beliau hanya demi menitipkan makalah. Kami sempat berteduh di sebuah warung pinggir jalan. Dari situ kami mulai ngobrol tentang banyak hal. Sebagaimana orang yang baru kenal. Bertanya ini itu. Fajar juga membelikanku beberapa jajan untuk mengisi kebosanan menanti hujan reda. Ternyata dia anaknya asik banget, humble dan easy going. Duh Aku jadi nostalgia. 

Semester satu berlalu, selanjutnya kami berbeda kelas. Sudah jarang bertemu tapi masih sering bbman. Aku ingat sekali, dulu dia sering banget delete contact aku, terus di invite lagi. Bahkan hampir setiap minggu. Katanya kalau lagi ketemuan sama pacarnya dia bakal delete semua contact cewek yang ada di bbmnya. Haha receh banget emang.

Kami juga mulai akrab, ketika dia memintaku untuk menemaninya beli kado sewaktu pacarnya ulang tahun. Haha ribet banget dia, mungkin karena ini harus special jadi kami sampai muter-muter, semua toko dimasukin untuk mencari kado paling oke. Seingatku kami jadinya membeli boneka besar dan sepasang sepatu. Kemudian aku dimintainya untuk membungkus kado itu. 

Sebagai imbalannya dia akan mentraktir aku mie tarik di Simpang Kampus. Sumpah dulu tuh masih malu-malu gitu sama Fajar. Karena aku tidak pernah pergi-pergi sama laki-laki atau sampai makan bareng. 

Siang itu kami sepakat untuk janjian di kampus dan makan siang. Eh pas kami di perjalanan menuju tempat makan malah ban Fajar bocor. Hahahaa. Malu ketika ada beberapa orang dipinggir jalan yang ngatain. "Kasian pacarnya suruh dorong mas," gitu kira-kira. 

Aku kasian juga sama dia, tapi untungnya bengkel tambal ban tidak terlalu jauh. Setelah menaruh motor di bengkel kami pun makan Mie Tarik lengkap dengan jus alpukat. Porsi besar sekali. Karena ini pertama kalinya makan bareng aku malu banget, kami makannya nggak berhadapan malah saling punggungan. Haha konyol sekali.

0 Response to "Tentang Sahabat Laki-laki"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel