Sepotong Kenangan Bersama Mbok Demes
Udara terasa panas, Mata jam dua siaang memang sedang semangat - semangatnya. Tapi aku tetap memilih rebahan di atas lantai keramik ruang tv. Sementara dari arah kamar mandi perempuan yang sering ku panggil mbok itu keluar.
"Kotangku tak telesi ben anyes." Katanya
Kadang aku tertawa geli dengan life hacks-nya tapi kakau dipikir -pikir dengan cara itu kita bisa tetep merasa sejuk tanpa harus berdekatan dengan kipas angin.
***
"wong gur kangkung wae dituku" ucapnya suatu hari.
Lalu ketika kami sedang melihat sawah mbok menawariku kangkung rawa. Aku mengiyakan karena suka sayuran itu. Sesampainya di rumah dia menumiskan kangkung itu.
Aku masih ingat rasanya yang pedas, perpaduan antara cabai dan merica. Aku kepedasan tapi justru pengen nambah nasi terus. Nikmat sekali rasanya. Makan sampai kekenyangan hanya berlauk tumis kangkung saja. Aku lupa sudah berapa tahun yang lalu. Tapi sampai hari ini kayaknya belum pernah menemukan tumis kangkung yang rasanya semacam itu. Kalau kangen agak repot jadinya.
***
Di atas parit pojok rumah mbok, ada pohon singkong karet yang sengaja ditanam untuk diambil daunnya sebagai sayuran. Setiap tumbuh kuncup daun yang baru tidak pernah menunggu tua. Pasti langsung dipetik mbok. Ia langsung memarut kelapa dan mengulek bumbu dengan posisi menungging.
Ini memang posisi yang aneh. Anak-anak dan cucu-cucunga sering menertawakan bagaimana mbok mengulek bumbu. Tapi sekarang, itu kami yakini sebagai kunci kelezatan santan daun singkong buatannya.
***
Aku lupa tahun berapa, sepetinya sekitar 2020 ketika pandemi COVID 19 melanda Indonesia. Aku baru saja memasuki dunia kerja. Tempat kerjaku mengambil kebijakan work from home. Aku sangat kesepian di kosan saat itu. Semua orang memutuskan pulang kampung. Akupun akhirnya memutuskan tinggal di rumah mbok untuk sementara. Hitung-hitung supaya lebih hemat dan nggak kesepian.
Suatu hari aku ingin sekali mencoba masak sambal ijo seperti yang ada di nasi Padang. Kebetulan stok cabai hijau lumayan sisa-sisa panen dari ladang masih ada.
Aku memakai bawang merah banyak sekali. Aku meyakini itu akan membuat sambalku enak. Kupikir karena tinggal kecil-kecil juga jadi kupakai semua. Setelah sambal itu matang, mbok mencicipinya, katanya enak. Tapi tak lama kemudian, mbok menyadari bawang merahnya habis tak tersisa. Lalu dia mengomeliku habis-habisan.
***
Begitulah Mbok Demes. Ada banyak hal menyebalkan tentangnya. Tapi rindu akan masakan-masakannya itu membuatku sesak. Sambal terasi yang entah komposisinya apa saja, tapi bikin aku nggak berhenti nambah nasi. Dengan kulupan daun singkong yang kematangannya pas dan warnanya hijau merona.
Santan daun singkong yang betapa keras aku mencoba meniru, tidak pernah bisa menyamai cita rasanya. Itu jadi satu kesalahan kami karena enggan betul-betul mempelajari resep darinya.
Bulan Januari 2026 kami memperingati tiga tahun berpulangnya mbok. Orang-orang menyebutnya dengan peringatan "mendak." Bagi anak-anak mbok termasuk orang tuaku, peringatan seperti ini merupakan penghormatan bagi orang tuanya.
Tapi bagiku sebagai cucu dan sudah punya pola pikir modern. Aku menganggap peringatan seperti ini sebagai momen mengingat kembali kenangan-kenangan bersama mbok.
Apalagi aku juga tidak punya banyak momen bersama mbok Demes. Aku bertemu lagi dengan mbok Demes saat aku remaja. Karena kuliah di tempat yang dekat dengan rumah mbok. Itu jadi momen atau titik balik mengenal asal-usul dan silsilah keluarga kandungku. Walaupun sebentar, dengan jujur ku katakan semua berkesan.
Semoga kebaikan-kebaikan kecilmu di dunia jadi teman setiamu di tempat keabadian ya, mbok. Husnul khatimah ya mbok Demes. :)

0 Response to "Sepotong Kenangan Bersama Mbok Demes"
Post a Comment