Gara-Gara Nasi Goóreng

Tidak ada yg lebih menyedihkan dari mau buat nasgor malem-malem. Udah ngulek bumbu direwangi mata pedes, tibaknya gas'e entek.
Semesta selalu punya cara menyajikan penderitaan. 🙃

Disembunyikannya segala pisuhan dari lisan ini, karena malam sudah terlalu larut. Takut kalau saja tetangga mengira ada kesurupan yang terjadi. Dalam situasi yang begitu mengenaskan itu, ada bagian dari diri ini yang masih terus optimis akan keinginan masak nasi goreng.

"Masak iya sih nggak ada solusi atas permasalahan yang begitu mendasar ini?" Begitu ucapku dalam hati.

Boleh saja orang menyebutnya aku sedang menghibur diri saat mengatakan.

"Ehh kata mamakku kalo di oyak-oyak bisa lo kadang2.. ini juga belum di merah banget jarumnya."

Padahal jauh dalam pikiranku, ada sebuah perpanjangan napas dan harapan. Boleh saja orang tertawa terpingkal-pingkal dengan segala keoptimisan atau lebih sederhananya 'kebodohan' ini.

Dengan kebegoan bercampur rasa lapar dan angan terhadap nasi goreng telur di malam hari aku masih positive thinking. Gasnya masih berat. Siapa tahu semesta sedang nge-prank saja. Ia hanya ingin aku lebih keras berusaha dan beristiqomah dalam keoptimisan ini.

"Kol, batrek'i disek iki jane entek tenan opo konslet si selange, sek tak oyak-oyak jajal." Dengan semangat berapi-api penuh keoptimisan.

Sampai akhirnya aku masih tidak menyangka dengan ke-ngenes-an setiap malam minggu ini. Kini nasi goreng menjadi simbol perdamaian antara keinginan dan kenyataan. Bahwa tidak semua yang kita usahakan dengan rasa optimis akan terwujud. Ada garis sabar yang harus dipanjangkan. Ada rasa legowo yang harus dilebarkan. Ada basreng yang masih bisa dimakan dengan nasi untuk membohongi perut ini.

Andai magic com bisa melakukan magic sesuai namanya, mungkin malam minggu tidak akan menjadi hal yang patut aku salah-salahkan terus. Setidaknya aku bisa mengublek-ublek bumbu dan telur di dalamnya dengan bantuan listrik. Tapi ternyata tidak, ia hanyalah magic com yang tak bisa melakukan segala magic.

Tapi cerita nasi goreng tidak berhenti sampai disitu. Kegagalan bukanlah hal yang membuat langkah harus terhenti. Keesokan harinya masih aja sejuta mimpi tentang nasi goreng kecap dan telur dadar di atasnya (sengaja didadar bukan diorak-arik, karena biar lebih terasa ada telurnya).

Mengingat nasi goreng merupakan cikal bakal kepiawaianku di dunia yang bersahabat dengan api dan pisau ini, ya sebut saja dapur. Bermula dari ketidaknapsuan untuk makan ketika pulang sekolah bertahun-tahun yang lewat.

"Mak masak sayur opo?" Tanyaku hampir setiap pulang sekolah.

"Pare." Jawab wanita yang biasanya cerewet itu dengan singkat.

"Heualah, jane sopo mbiyen sing marai nyayur pare ki, barang pait mbarang dimasak." Gerutuku.

"Masak'o dewe lak ora cocok." Katanya lagi.

Begitulah kira-kira ketika nasi dan cabe-cabean yang diulek dengan uyah dan micin menyelamatkan perutku dari pahitnya pare. Sejak saat itu, nasi goreng adalah alternatif yang selalu bisa diandalkan untuk menyelesaikan persoalan paling mendasar kala lapar.

Maka seiring seringnya mamak menyayur sesuatu yang kurang mengenakkan bagiku. Seolah semesta sedang memberiku kesempatan untuk melatih diri. Membuat nasi goreng dari yang keasinan, kepedesan, hambar, sampai yang enak dan cocok jadi menu andalan restoran. Nasi goreng adalah batu loncatan akan kesuksesanku di dunia dapur.

Paginya akupun berhasil membalas dendam masak nasi goreng. Wkwkw



0 Response to "Gara-Gara Nasi Goóreng"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel