Tidak Sempurna, Tapi Bertahan: Refleksi Akhir Tahun Seorang Ibu Gen Z

Masih teringat jelas tahun 2025 ku dibuka dengan kabar yang mengecewakan. Aku dinyatakan tidak lolos CPNS. Padahal kayaknya tinggal selangkah lagi. Tentu rasanya sedih sekali. Aku nangis dan mencoba sekuat tenaga menerima kenyataan pahit ini. Apalagi kalau ingat perjuangan tes demi tes yang sudah ku lalui. Tapi itu setahun yang lalu, aku masih berharap tahun depan ada kabar baik untukku.

Setelah gagal aku mencoba mengalihkan fokusku untuk tetap produktif menulis blog. Dari awal aku sudah tertarik ingin daftar seedbacklink karena melihat beberapa teman yang mendapat penghasilan dari sana. Ternyata pendaftarannya memag cukup mudah. Kalau tidak salah, sehari setelah mendaftar aku langsung mendapat orderan backlink. Tentu ini jadi angin segar buatku. Semacam pelangi setelah badai.

Meskipun begitu, hari-hariku masih dipenuhi rasa insecure. Tapi dipenghujung tahun ini aku baru menyadari bahwa aku telah berjuang demikian kerasnya. Maka harus dirayakan supaya aku bisa menghargai upayaku. Setelah tiga bulan berlalu, aku ingin mencoba shopee affiliate. 

Karena seedbacklink juga sangat tidak pasti orderannya. Campaign atau job untuk blogger tahun 2025 juga sepi banget bahkan hampir nggak ada. Kayaknya cuma dari Eco Blogger saja. Tapi di affiliate aku terhalang NPWP, sementara mengurus sendiri kebingungan. Suamiku sibuk dengan pekerjaannya. Tapi setelah menunggu kira-kira dua bulan, akhirnya NPWP ku jadi. Langsung menapaki dunia shopee affiliat lalu ke tiktok affiliate. 

Tapi entah kenapa menjalani affiliate terasa kurang nyaman. Aku selalu dihantui rasa cemas. Aku juga masih bingung mau bawa akun ku ke niche apa. Mungkin karena aku grasa-grusu juga. Terus pertengahan tahun ada lomba video konten literasi di Perpusda.

Rasanya sudah yakin betul dengan konten yang kubuat bersama suamiku. Effortnya juga lumayan ketika itu. Suami pinjam kamera dari tempat kerjanya, kami take video di beberapa tempat. Terus rangkaian lombanya ada pelatihannya juga. Tapi begitulah resiko kalau ikut lomba, kita harus siap dengan kekalahan. Waktu pengumuman tiba ternyata kami nggak menang. Padahal hadiahnya cukup fantastis untuk setiap nominasinya. 

Kekalahan kali ini lebih cepat aku terima. Mungkin bukan rezeki. Aku langsung bergegas mencari projek-projek baru. Kebetulan Balai Bahasa Lampung membuka kesempatan untuk kontributor majalah. Ada beberapa rubrik yang bisa diisi. Aku memutuskan untuk mengirim naskah resensi buku. Balai Bahasa juga menyelenggarakan sayembara penulisan naskah buku anak dwibahasa. 

Dengan semangat aku menulis naskah. Aku punya keyakinan besar naskah ini akan lolos. Aku juga percaya diri mengalihbahasakan sendiri ke dalam bahasa Lampung. Karena aku dulu pernah mengajar bahasa Lampung selama dua tahun. Tapi giliran tiba waktu pengumuman naskahku tidak lolos. Aku sangat sedih dan kecewa. Rasanya putus asa sekali dalam dunia kepenulisan ini. Aku berpikir kayaknya otakku nggak kapabel dalam menulis lagi. 

Aku juga melupakan kabar resensi buku yang aku kirim. Aku coba benting stir lagi ke affiliate. Kali ini aku benar-benar ingin konsisten dan membuktikan kegigihanku di bidang affiliate. Aku harus punya target dan tentu saja harus meningkatkan kualitas kontenku. Aku pelajari semua cara mengambil video, hook, riset produk. Kayaknya aku mulai fokus affiliate dari bulan September. 

Aku ingat betul karena itu berbarengan dengan notifikasi undangan monetisasi konten dari Facebook. Kabar itu cukup menggembirakan bagiku. Aku juga bertekad ingin memaksimalkan Facebook Pro untuk pendapatan. Apalagi Facebook dan affiliate juga bisa dikolaborasikan. 

Saat sedang fokus ngonten di beberapa platform. Kabar gembira tak terduga datang dari naskah resensiku yang ternyata lolos. Alhamdulillah tentu saja ini membuatku sangat senang. Ini jadi kali pertama naskah resensiku dimuat media lain. Karena biasanya aku hanya menulis review buku di blog. Akhirnya stok novel jualanku yang belum laku itu bisa jadi duit lewat resensi buku. 

Sebelum resign dulu, aku telah merencanakan untuk fokus ngeblog sama jualan buku. Tapi waktu menjalaninya aku sangat kesulitan dalam delivery dan pembuatan konten. Setelah jadi ibu, aku baru sadar kalau waktuku sangatlah terbatas. Aku benar-benar berpikir bahwa saat ini butuh pemasukan yang cepat. Harus aku akui ternyata aku sangat tergoda dengan jalan-jalan instan. 

Aku pikir menjalankan affiliate bisa lebih instan daripada menulis blog dan berjualan buku. Tapi ternyata justru sebaliknya. Sudah tiga bulan ngonten dengan membeli peralatan yang lumayan mahal, mulai dari lighting, background dan tripod. Tapi hasilnya baru cukup untuk mengganti biasa beli alat-alatnya itu. 

Belum lagi aku juga membeli sampel berupa baju-baju dan jilbab berdasarkan riset produk yang aku pelajari. Tapi hasilnya belum juga kelihatan. Meskipun begitu, setidaknya modal beli alat-alat konten sudah kembali. Hitung-hitung sampel yang aku beli adalah jatah belanja pakaianku. Aku berharap ada kemajuan di platform affiliate ini. 

Setidaknya hampir empat bulan menjalankan affiliate ini bukan yang kosong banget hasilnya. Aku juga jadi dapat ilmu sedikit-sedikit. Tapi memang harus ku akui modal alat-alatnya cukup banyak. 

Di penghujung tahun ini sebenarnya aku juga merasa cukup. Sudah nggak terlalu insecure atau terus membandingkan hidupku dengan orang lain. Aku mencoba tenang. Dalam ketenangan itulah rezeki yang tak pernah ku sangka-sangka datang. Campaign yang pernah aku ikuti untuk keperluan job ternyata jadi pemenang. 

Dari awal nggak pernah kepikiran atau berharap menang. Karena pasti yang ikutan banyak banget dan mereka pasti lebih banyak yang bagus. Tapi Alhamdulillah dapat juara paling bawah, hadiahnya masih lumayan. 

Tahun ini adalah tahun kedua aku menjadi ibu, tahun kedua aku menjalani peran sebagai perempuan yang di rumah saja. Meski sering dilanda insecure, tapi tahun ini ngajarin aku tentang. "Nggak selamanya kita gagal, selalu ada keberhasilan-keberhasilan kecil yang bisa kita rayakan."

Selama kita terus berusaha. Masa iya sih, Allah nggak ngasih. Meski kadang ngasihnya bukan lewat jalan yang kita usahakan. Tapi lewat jalan yang nggak kita sangka-sangka. 

Aku berharap tahun 2026 ada banyak kejutan dan kabar baik untukku serta keluargaku. Aaaamiiin. 

0 Response to "Tidak Sempurna, Tapi Bertahan: Refleksi Akhir Tahun Seorang Ibu Gen Z"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel