Bersama Bergerak Berdaya Mencegah Perubahan Iklim

Tahu nggak sih guys? Kalau bumi kita sekarang ini sudah mengalami peningkatan suhu. Makanya hari-hari terasa makin panas kan sekarang? 

Di lansir dari kompas.id, suhu tahunan menunjukkan peningkatan suhu permukaan bumi sebesar 1,15 derajat celcius pada tahun 2022. Sementara laporan terbaru dari Badan Meteorologi Dunia (WMO) pada Januari 2023 menyatakan bahwa tahun 2022 menjadi tahun terpanas secara global.

Fakta tentang Perubahan Iklim yang Saya Rasakan di Indonesia

Sekarang ini aku merasakan hari-hari terasa sangat panas. Panas yang begitu menusuk. Kadang kalau lagi naik motor jam 11 siang sampai jam 3 sore panas terasa dari atas dan dari bawah. Terlihat juga orang-orang yang bekerja di sawah memilih mengerjakan pekerjaan sawah di pagi atau sore hari. Mungkin karena panasnya sudah tidak tertahankan lagi.

Namun, di sisi lain, hujan bisa tiba-tiba datang, padahal hari sebelumnya begitu cerah. Mungkin sudah dua bulan yang lalu sejak, pohon singkong karet besar yang menjadi tempat teduh di depan rumah kami tumbang akibat hujan angin. Sementara, baru dua minggu yang lalu ketika saya pulang dari bekerja diserang hujan angin saat melintasi persawahan. Sontak motor yang saya kendarai seperti akan diterpa angin. 

Kemudian, baru seminggu ini, tetangga desa tempat kami tinggal dilanda angin puting beliung. Bahkan salah satu teman kantor saya yang bermukin di daerah tersebut terdampak juga. Rumahnya dibanjiri air hujan, genteng rumah merosot, dan atap dari baja ringan banyak beterbangan, serta satu pohon besar dekat perbatasan daerah kami tumbang.

Apa yang bisa kita pikirkan setelah menengok bencana-bencana meteorologi ini semakin dekat dengan kehidupan?

Bencana meteorologi merupakan bencana yang disebabkan karena adanya perubahan iklim atau cuaca. Misalnya, badai tropis, badai siklon, kekeringan, banjir dan sebagainya. Apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari sekarang ini merupakan dampak adanya perubahan iklim. 

Kebetulan keluarga saya juga masih banyak yang menjadi petani. Mereka mengeluhkan bahwa sekarang musim sudah tidak jelas. Mereka kesulitan menentukan kapan akan mulai menanam karena hujan bisa datang kapan saja, sementara kemarau panjang juga akan segera mengancam.

Tahun lalu beberapa dari saudara saya mengalami gagal panen cabai karena mungkin salah prediksi musim. Cabainya membusuk karena terlalu banyak curah hujan. Kegagalan panen ini bisa menular ke tanaman lain jika musim semakin sulit ditentukan.

Akibatnya kita akan terancam krisis pangan jika situasi dan cuaca makin tidak keruan. Harga bahan pangan akan semakin melonjak. Sementara petani juga kalang kabut menghadapi hama dan berbagai tantangan di lapangan.

Perubahan iklim itu nyata, bahkan sudah bisa kita rasakan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa hal yang perlu kita sadari adalah, bahwa perubahan iklim tidak terjadi begitu saja tanpa sebab. Kalau kata peribahasa, tidak mungkin ada asap jika tidak ada api.

Tanpa sadar, ternyata kebiasaan sehari-hari kita inilah yang meningkatkan emisi karbon dan memicu adanya perubahan iklim. Emisi karbon merupakan terlepasnya karbondioksida ke atmosfer bumi. Hal ini disebabkan oleh, beragam aktivitas manusia seperti kegiatan industri yang mengasilkan asap, energi listrik yang berasal dari pembakaran batu bara, deforestasi, dan sebagainya.

Dampak Emisi Karbon pada Perubahan Iklim

1. Suhu Bumi Meningkat

Ketika bumi mengalami peningkatan suhu, maka gelombang panas juga akan dirasakan oleh manusia. Mungkin itu pula yang kita rasakan beberapa waktu terakhir. Es yang ada di kutub juga terus mencair. Peningkatan suhu bumi juga akan berdampak pada krisis pangan akibat gagal panen. 

Pada akhirnya peningkatan suhu bumi juga akan meningkatkan bencana-bencana sosial, seperti kelaparan dan gangguan ekonomi. Itulah dampak yang akan terjadi jika kita semua abai tentang meningkatnya emisi karbon setiap hari.

2. Permukaan Air Laut Meningkat

Banjir rob yang disebabkan oleh meningkatnya permukaan laut telah melanda beberapa daerah di Indonesia. Seperti yang terjadi di Jawah Tengah dan Maluku Utara. Banjir rob ini dapat menghambatberbagai aktivitas daerah pesisir pantai, seperti kegiatan sekolah, pasar dan seterusnya.

Pesisir pantai yang dahulunya belum pernah banjir rob, mulai diprediksi akan mengalami banjir rob karena meningkatnya permukaan air laut. Tentu ini merupakan masalah serius yang harus menjadi perhatian bersama. 

3. Cuaca Ekstrem

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisikan (BMKG) memprediksi terjadinya cuaca ekstrem di sebagian wilayah Indonesia pada bulan Mei 2023. Maka terbukti juga di bulan Mei ini tetangga desa saya mengalami bencana angin puting beliung. Tidak ada korban jiwa namun beberapa rumah warga dan fasilitas umum seperti sekolah terdampak.

Belum lagi dengan cuaca panas yang terasa menusuk setiap hari. Saya bahkan sampai mengamati para petani yang lebih memilih mengerjakan pekerjaan di sawah pada sore hari. Mungkin karena terik matahari di siang hari sudah sangat menusuk tak tertahan.

4. Resiko Kebakaran Hutan Meningkat

Semakin banyaknya karbon yang terlepas ke atmosfer, itu juga akan meningkatkan resiko kebakaran hutan. Apalagi jika lahan gambut yang berguna untuk menyimpan karbon sudah makin berkurang karena alihfungsi lahan.

Kebakaran hutan sudah pasti akan berdampak pada kesehatan masyarakat sekitar seperti gangguan pernapasan. Selain itu mereka juga akan kesulitan menemukan air dan pangan yang sehat karena kebakaran hutan menghasilkan asap yang berdampak ke wilayah sekitarnya.

Langkah-langkah Bersama Bergerak Berdaya Meminimalisir Dampak Emisi Karbon Pada Perubahan Iklim

1. Bijak Menggunakan Energi

Hidup kita zaman sekarang terasa semakin budah karena terbantu oleh sumber energi, terutama energi listrik. Tapi, energi listrik yang kita gunakan juga berdampak pada lingkungan hidup. Maka, kita sebagai pengguna energi perlu bijak menggunakannya agar dampak energi listrik yang tidak ramah lingkungan ini semakin parah.

Saya sendiri berusaha seminimal mungkin menggunakan energi listrik. Meskipun terkadang terasa berat sekali. Misalnya saat saya sedang tidak begitu lelah, saya memilih untuk mencuci baju secara manual ketimbang menggunakan mesin.

Saya juga selalu berusaha agar dapat menyetrika baju dalam jumlah yang banyak sekaligus agar listrik yang digunakan tidak begitu banyak. Selain dapat menghemat pengeluaran, langkah ini juga dapat digunakan sebagai upaya #BersamaBergerakBerdaya meminimalisisr dampak emisis karbon pada perubahan iklim.

Satu hal yang sebenarnya berat sekali dilakukan adalah, meminimalisir penggunaan gawai dan laptop. Karena baterai gawai kita di-charge menggunakan listrik. Sehingga meminimalisir penggunaan gawai ini juga dapat menjadi satu alternatif bijak menggunakan energi. Sebagai gantinya mungkin kita dapat beraktivitas fisik maupun membaca buku.

Masih ada beberapa langkah bijak menggunakan energi diantaranya, mencabut colokan yang sudah tidak digunakan, menggunakan lampu LED, mencabut magic com setelah selesai masak nasi, sampai memompa air manual atau menggunakan timba. Agak terjal ya perjuangan bijak energinya. Hehe.

2. Menanam Pohon atau Sayuran Sendiri

Menanam pohon tentu menjadi langkah yang cukup signifikan dalam menekan emisi karbon yang terlepas. Pemerintah dalam hal ini juga memiliki peranan penting dalam mensosialisasikan kepada masyarakat tentang pentingnya ruang terbuka hijau. Karena gerakan kolektif tentu akan semakin berdampak besar.

Saya sendiri adalah orang yang suka dengan rumah yang dikelilingi pohon. Meskipun kalau hujan memang terasa ngeri. Tapi pohon-pohon di sekitar rumah memberikan suplai oksigen untuk kita. Selain itu saat cuaca panas, mungkin kita tidak begitu membutuhkan Air Conditioner (AC) karena punya AC alami.

Satu tahun yang lalu saya dan suami juga hunting beberapa pohon untuk ditanam di halaman rumah. Ada pohon mangga dan jeruk yang berhasil kami beli. Sampai Ibu mertua saya bingung mau ditanam dimana lagi pohon-pohon itu, karena di rumah juga ada beberapa pohon lain seperti sawo dan kelengkeng. Kebetulan beliau juga cukup suka dengan tanaman dan pepohonan. Walaupun terkadang agak lelah juga nyapu daun-daunnya.

Selain menanam pohon, saya selalu berusaha belajar menanam sayuran sendiri. Meskipun jumlahnya belum terlalu banyak. Karena nontonin konten-konten tentang perkebunan di lahan sempit saya selalu termotivasi menggunakan media yang ada untuk belajar menanam ini. Semoga ini juga dapat menjadi langkah mengurangi dampak emisi karbon pada perubahan iklim.

Pohon yang kita tanam akan membantu menyerap karbondioksida yang kita hasilkan. Pohon-pohon tersebut juga akan memberikan suplai oksigen untuk kita bernapas. Udara sekitar rumah jadi makin sejuk.

3. Menggunakan Transportasi yang Ramah Lingkungan

Waktu kuliah, saya harus berhemat dengan pengeluaran, termasuk transportasi. Orang tua saya meminta saya membawa sepeda butut di rumah untuk di bawa ke kosan. Sepeda itu saya gunakan bertahun-tahun selama kuliah. 

Saat teman-teman lain menggunakan motor bahkan mobil untuk kuliah. Saya naik sepeda dari kosan menuju kampus. Awalnya saya benar-benar malu. Untungnya ada juga yang naik sepeda ke kampus. Walaupun tidak sebanyak yang naik motor. Tapi dengan itu saya cukup tenang dan menikmati kemana-mana naik sepeda.

Kalau tidak naik sepeda ya kemana-mana jalan kaki. Selain jalan kaki itu hemat, juga sehat dan ramah lingkungan. Tapi setelah bekerja saya malah sering naik motor, karena sudah punya motor. Selalu ada niatan untuk mengulang rutinitas lama yang kemana-mana naik sepeda. Tapi entah kenapa belum kesampaian sampai sekarang. Padahal menggunakan transportasi yang ramah lingkungan ini juga dapat mengurangi dampak emisi karbon pada perubahan iklim.

3. Mengutamakan Transaksi Ekonomi Lokal daripada Impor

Dokumentasi pribadi: kain ecoprint produk lokal Kota Metro

Siapa di sini yang suka banget pergi ke pasar tradisional?

Sayaaaaa.

Sudah sejak ngekos saya selalu pergi ke pasar tradisional setiap weekend untuk belanja segala kebutuhan. Terutama kebutuhan dapur. Kebetulan sejak ngekos saya selalu masak sendiri. Untuk menekan biaya hidup.

Setelah menikah, kebiasaan masak sendiri pun semakin terasa banyak sekali manfaatnya. Secara finansial, masak sendiri itu jelas lebih hemat. Secara emosional, masak sendiri memberikan saya kepuasan secara rasa dan kuantitas makanan. Dan secara psikologi, karena saya memang suka masak, maka masak jadi hal yang sangat menyenangkan.

Karena memasak itu menyenangkan, maka belanja bahan-bahannya pun juga menyenangkan. Seperti saat saya memilih terong, labusiam, tomat dan sayuran hijau di pasar tradisional. Selain itu, ada rasa bahagia tersendiri saat pergi ke pasar tradisional, menjumpai mbah-mbah tua yang masih semangat menjemput rezeki. Melihat senyumnya karena kita beli dagangannya membuat saya tertular oleh semangatnya itu.

Lagipula produk-produk lokal harganya juga lebih terjangkau. Saya biasa beli jeruk nipis dan lemon lokal. Harganya jauh lebih murah dari yang impor. Dengan berbelanja produk lolak, kita juga dapat menekan jumlah ekspedisi impor yang juga menyumbang polusi.

4. Berkontribusi Mengelola Bank Sampah Setempat

Sampah organik dan anorganik yang bercampur juga menimbulkan emisi karbon lho. Sampah organik dan anorganik yang tercampur akan menimbulkan gas metana. Gas metana juga kalau terlalu banyak kan bisa terlepas ke atmosfer. 

Beberapa waktu yang lalu, sekolah tempat saya bekerja mengajak anak-anak ke Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) di daerah kami. Menurut saya situasinya sudah cukup mengkhawatirkan, karena tumpukan sampahnya udah menggunung seperti itu.

Dokumentasi pribadi: bertamasya ke TPAS Kota Metro

Padahal satu tahun sebelumnya saya juga pernah pergi ke sana, penambahan sampah dalam kurun waktu satu tahun ini juga sangat cepat dan signifikan. Tentu ini menjadi PR bersama. Tidak hanya pemerintah yang bertanggungjawab. Kita semua punya peran.

Berkuntribusi Mengelola Bank Sampah Setempat bisa menjadi langkah sederhana yang dapat kita lakukan agar sampah yang terbuang ke TPAS semakin sedikit. 

Kalau belum ada Bank Sampahnya?

Mungkin bisa membuatnya bersama warga sekitar. Kebetulan di dekat rumah saya baru berdiri satu Bank Sampah. Namanya Bank Sampah Hatim Berseri. Saya menyambut baik kehadiran bank sampah ini. Pengelolanya kemudian juga bersemangat karena banyak yang mulai sadar dan mau telibat di Bank Sampah ini. 

Bank Sampah Hatim Berseri
Dokumentasi pribadi: menabung ke bank sampah

Pak Mulyadi sebagai pengelola Bank Sampah Hatim berseri juga mengajak saya untuk terus terlibat. Apalagi ketika saya baru semangat belajar membuat eco-enzyme. Ke depan beliau mengajak saya untuk demo pembuatan eco-enzyme bersama ibu-ibu sekitar tempat tinggal kami. Wah itu terdengar menyenangkan.

Tindakan Nyata Untuk Bersama Bergerak Berdaya Agar Bumi Pulih Lebih Kuat

Langkah mengurangi emisi karbon pada perubahan iklim mungkin terasa berat. Makanya kita juga harus ajak-ajak orang lain biar terasa ringan. Kalau bicara tentang lingkungan hidup dan perubahan iklim, memang yang paling utama adalah bagaimana mind set kita. Kalau sudah punya sudut pandang yang selalu mempertimbangkan lingkungan. Maka setiap keputusan yang ada di dalam hidup akan selalu kita pertimbangkan dampak lingkungannya.

Setelah mind set dan sudut pandang terbentu, perlahan-lahan kita daratkan yang ada di kepala menjadi tindakan nyata untuk bersama bergerak berdaya agar bumi yang sudah mengalami kenaikan suhu ini pulih lebih kuat.

Berikut Tindakan Nyata Untuk Bersama Bergerak Berdaya Agar Bumi Lebih Kuat, yang sekarang aku upayakan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Belajar Mengelola Sampah

Sampah itu persoalan manusia yang paling kompleks. Padahal kita belajar tentang kebersihan dan kepedulian lingkungan itu mungkin sejak sekolah dasar. Waktu masih sekolah, kita selalu diwanti-wanti agar tidak membuang sampah di sungai. 

Boleh jadi, sebagian besar orang menerima nasihat itu diwaktu Sekolah Dasar. Lantas apakah sudah tidak ada lagi orang yang buang sampah ke sungai? Jawabannya belum tentu. Ini buktinya.

Dokumentasi pribadi: salah satu saluran irigasi di Kota Kami

Apakah mereka membuang sampah karena tidak paham tentang bahayanya buang sampah di sungai? Ah rasanya belum tentu. Ada beragam alasan dan kondisi kenapa orang-orang ini membuang sampah di sungai. Setidaknya ada satu alasan yang terlintas di pikiran saya. 

Barangkali, sudah tidak ada lagi tempat untuk menaruh sampah-sampah ini. Sementara tidak ada anggaran untuk membayar iuran sampah. Boleh jadi pula, orang-orang ini sudah tidak punya atau bahkan tidak berniat menyisakan waktunya untuk belajar mengelola sampah.

Ah, sungguh banyak sekali kemungkinan alasan kenapa masih saja ada yang buang sampah di sungai. Saya juga bukan orang yang sudah berhasil betul mengelola sampah. Bahkan kesadaran akan pentingnya mengelola sampah sendiri saja baru muncul beberapa bulan terakhir. 

Jadi gimana dong?

Balik lagi, belajar, belajar dan belajar. Belajar mengelola sampah yang dihasilkan sendiri. Kalau rasanya tidak sanggup mengelolanya maka kita dapat meminimalisir sampah yang sulit dikelola. Duh, berat ya? Berat banget. Intinya dengan belajar mengelola sampah sendiri. Kita punya tindakan nyata untuk bersama bergerak berdaya agar bumi pulih lebih kuat.

2. Tidak Berlebihan Membeli Makanan

Dokumentasi pribadi: selalu menghabiskan makanan yang dibeli aliyas gak mau rugi

Pernah nggak sih teman-teman ngerasain laper mata?

Itu loh, ketika kita kalap beli makanan ini itu, tapi ujung-ujungnya nggak kita makan, akhirnya di buang makanannya. Atau kita pergi belanja tanpa perencanaan sama sekali. Akhirnya beli bahan-bahan makanan yang ujung-ujungnya nggak kita olah, hanya berakhir di kotak sampah.

Sayang kan uangnya?

Selain sayang uang, ini juga bisa berdampak buruk bagi lingkungan. Volume sampah makanan atau sampah organik yang tidak diolah bisa menghasilkan gas metana dan bau tak sedap yang menimbulkan ketidaknyamanan.

Maka penting sekali rasanya untuk membuat perencanaan yang matang saat hendak berbelanja. Supaya bahan-bahan atau makanan yang kita beli dapat kita habiskan dan manfaatkan dengan maksimal. Kebetulan karena saya juga mulai peduli dengan pengaturan keuangan rumah tangga. Sehingga setiap keputusan yang melibatkan keuangan harus dipertimbangkan matang-matang.

3. Membawa Botol Minum Sendiri

Kebiasaan membawa botol minum sendiri sudah saya lakukan sejak masih kuliah. Dulu alasan utamanya tentu saja agar lebih hemat. Kalau tidak bawa botol minum sendiri, sebentar-sebentar harus mengeluarkan uang untuk beli air mineral. 

Tapi kalau bawa botol minum sendiri lumayan bisa hemat berapa puluh ribu setiap bulan. Semakin ke sini, makin bangga juga sama satu kebiasaan ini. Karena membawa botol minum sendiri selain menghemat pengeluaran ternyata juga berdampak baik pada lingkungan.

Setidaknya kita dapat bersama bergerak berdaya mengurangi sampah plastik kemasan air mineral. Kalau sudah terbiasa bawa botol minum sendiri, pasti terasa ada yang kurang kalau tiba-tiba kelupaan bawa botol minum sendiri. 

4. Memakai Pembalut yang dapat Dipakai Kembali

Sejak pertama kali mendapatkan menstruasi waktu kelas tiga SMA, ibu saya membuatkan kain dari handuk bekas sebagai pengganti pembalut. Lagi-lagi alasan utamanya karena menekan biaya pembalut. Sayang banget uang dipakai untuk beli pembalut sekali pakai. Kan bisa pakai kain bekas yang penting bersih dan bisa menyerap menstruasi.

Jadilah sejak awal mendapat menstruasi saya sudah mengenal pembalut kain yang dapat dipakai berulang. Namun, pada perjalanannya, ada situasi yang membuat saya sulit menggunakan pembalut kain. Misalnya waktu perjalanan jauh. Hingga sempat saya tidak menggunakan pembalut kain lagi, malah beralih ke pembalut instan.

Baru dua tahun belakangan saya benar-benar menyadari betul bagaimana dampak pembalut instan pada lingkungan. Lagipula, saat itu berbarengan perpindahan saya dari kos-kosan ke rumah mertua pasca menikah. Saya kebingungan membuang pembalut instan dimana, saya juga cukup canggung menanyakannya.

Dokumentasi pribadi: koleksi pembalut kain waktu masih baru

Maka saat itu saya putuskan untuk memakai pembalut kain kembali. Tapi bedanya, saya beli pembalut kain yang sudah jadi tidak bikin sendiri seperti yang dilakukan ibu saya. Alhamdulillah, sudah dua tahun bertahan menggunakan pembalut kain dengan segala tantangannya. Mulai dari tantangan mencucinya sampai bagaimana berganti pembalut kain di luar rumah seperti di tempat kerja.

Walaupun terasa ribet, tapi saya punya kepuasan tersendiri. Pertama kepuasan karena bisa menghemat anggaran beli pembalut setiap bulan. Kedua, kepuasan karena bisa berkontribusi menjaga lingkungan. 

5. Membawa Bekal atau Bawa Wadah Sendiri Saat Beli Makanan

Dokumentasi pribadi: tiada hari tanpa bawa bekal, biar hemat dan sayang bumi

Sejak kuliah juga saya sudah sering membawa bekal sendiri. Sudah hemat sejak dulu dong. Urusan hemat pokoknya palig depan.  Bawa bekal sendiri ya biar nggak beli-beli lagi makanan kalau lapar. Kebawa juga akhirnya waktu kerja setiap hari selalu membawa bekal. 

Bawa bekal juga berdampak sama lingkungan lho. Kebayang kan, kalau setiap hari beli makanan. Berapa banyak kemasan makanan yang kita beli dalam sebulan. Sudah boros, nambah sampah pula. 

Kalau sekarang, karena merasa sudah cukup sadar. Mulai deh, kemana-mana bawa tas belanja. Kalau mau jajan mulai mikir gimana caranya biar nggak nambah sampah. Ya bawa wadah makanannya sendiri. Kaya saya dan teman-teman dari Women and Environtment Studies (WES) Payungi nih, janjian jajan tapi bawa wadah masing-masing. 

Dokumentasi pribadi: jajan tapi tetap sayang bumi

7. Membuat Eco-Enzyme

Tepat bulan Februari 2023, saya memutuskan mencoba membuat eco enzyme. Setelah sebelumnya terpapar konten-konten pembuatan eco enzyme dari teman-teman Eco Blogger Squad. Kebetulan di sekolah juga sempat mengadakan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan membuat eco enzyme bersama salah satu guru di sekolah.

Karena penasaran, akhirnya saya coba sendiri. Menjelang panen saya cari-cari informasi tentang kegunaan eco enzyme dan keberhasilannya. Saya gabung grup eco enzyme di Facebook. Hingga akhirnya setelah panen pertama saya langsung memutuskan untuk membuat eco enzyme yang kedua.

Dokumentasi pribadi: hasil panen pembuatan eco enzyme pertama

Eco enzyme adalah cairan serba guna yang dihasilkan dari kulit buah yang difermentasi selama tiga bulan bersama gula merah dan air. Hasil cairannya dapat digunakan sebagai campuran sabun cuci piring, pembersih lantai, detergen, pupuk dan pestisida alami sampai cairan pengusir nyamuk.

Dengan menggunakan cairan eco enzyme ini, konon limbah yang dihasilkan tidak mencemari lingkungan. Sebenarnya masih banyak sekali kegunaan eco enzyme yang belum saya coba, seperti untuk menjernihkan air sumur dan air sungai.

Setelah membuat eco ezyme dan mencobanya menjadi beberapa cairan serba guna. Ada perasaan puas tentang keberhasilan membuat sesuatu yang alami. Apalagi saat saya ceritakan ini kepada teman-teman mereka penasaran dan tertarik. Kalau ini dilakukan dengan konsisten mungkin dampaknya bisa lebih luas lagi. Semoga.

Sadar atau tidak, setiap keputusan tentang menjaga lingkungan, selalu ada keuntungan secara ekonomi. Bahkan kebiasaan ramah lingkungan yang saya lakukan pada awalnya karena situasi ekonomi. Kalau kita mau memperhatikan memang akan selalu ada dampak positif yang kita rasakan. Apalagi ini berbuat baik pada lingkungan yang selama ini menopang hidup kita.

Untuk membuat bumi pulih lebih kuat lagi tentu saja kita tidak boleh sendiri. Bersama bergerak  berdaya mencegah perubahan iklim harus dilakukan secara kolektif agar tidak berat dan terasa menyenangkan. Sementara gerakan kolektif akan semakin cepat berjalan didukung oleh pemimpin maupun pemerintah yang membuat kebijakan.

Kalau seandainya kamu punya kesempatan untuk membuat kebijakan? Apa sih yang pengen kamu terapkan?

Kebijakan yang Ingin Saya Terapkan Bersama Bergerak Berdaya Untuk Mengurangi Mitigasi Resiko Perubahan Iklim

1. Bank Sampah Setiap RT

Dokumentasi pribadi: bank sampah dekat rumah

Sebenarnya, solusi tentang pengelolaan sampah itu terlalu melelahkan. Mulai dari proses pengumpulan sampai proses daur ulang. Butuh banyak tenaga dan anggaran. Oleh karena itu, mind set yang harus benar-benar tertanam adalah bagaimana agar mengurangi bahkan tidak menghasilkan sampah yang sulit didaur ulang.

Namun, saya sendiri merasakan adanya bank sampah di dekat rumah membuat saya tidak begitu bingung mengatasi sampah. Setidaknya ada teman yang ikut berkontribusi agar bank sampah terus berjalan menebarkan kebermanfaatan. 

Kalau satu tempat saja banyak manfaatnya, bagaimana jika setiap RT ada bank sampahnya? 

Pasti akan sangat membantu mengatasi sampah yang sampai saat ini masih terlalu kompleks. Walaupun akan banyak sekali tantangan dan hambatan untuk mewujudkannya.

2. Program Menanam Sayuran untuk Ketahanan Pangan

Entah kenapa saya hobi sekali nonton konten kebun di lahan sempit, kebun sayur di rumah, dan berbagai konten yang menampilkan kebun sederhana tapi isinya beraneka ragam.

Saya selalu membayangkan kalau setiap rumah punya kebun semacam itu. Tentu persoalan sayur mayur, cabai, tomat dan buah-buahan bukan perkara yang rumit.

Meskipun kadang segala keriweuhan membangun kebun seperti itu kerap tidak ditampilkan dilayar. Pasti butuh ketelatenan dan jiwa yang kreatif serta sabar supaya sebuah kebun bisa dipanen.

Tapi hal semacam ini juga harus tetap disuarakan. Siapa tahu ada orang lain punya keinginan serupa. Kalau ditempuh bersama-sama biasanya bisa jadi lebih semangat. Maka dari itu saya menuliskannya di blog ini. Hehe.
Dokumentasi pribadi: memanen di kebun sekolah

3. Program Membuat Ecobrick Secara Kolektif

Ada beberapa sekolah di Kota saya yang mulai mempraktikkan pembuatan ecobrick secara kolektif. Kalau di sekolah tempat saya mengajar memang belum. Mungkin nanti akan berjalan ke arah sana.

Tapi saya pernah mengunjungi sekolah yang salah satu kursi tunggunya terbuat dari ecobrick. Saya sangat kagum dengan hal itu. Membayangkan kalau kegiatan kreatif seperti itu dilakukan di lingkungan sekitar. 

5. Aturan Khusus Tentang Wajib Memiliki Tempat Sampah Organik dan Anorganik Setiap Rumah

Kenapa sih dengan gampangnya orang membuang sampah sembarangan? 

Di sungai, di pinggir jalan, di pekarangan kosong dan lain-lain. 

Dokumentasi pribadi: satu penampakan di pinggir ledeng Kota Metro
Kenapa hal itu terjadi terus menerus. Karena memang tidak ada aturan baku tentang kewajiban kepemilikan tempat sampah seperti halnya kepemilikan identitas.

Apalagi edukasi tentang pentingnya pemilahan antara sampah organik dan anorganik belum begitu masif ke masyarakat. Sehingga masyarakat yang tinggal di desa tidak begitu antusias memilah sampah. 

Bagi mereka, sampah bisa di buang di kebun, karena memiliki lahan yang lebih luas dari pada orang-orang yang tinggal di kota.

Meskipun begitu, edukasi tentang pentingnya memilah sampah tetap harus dilakukan. Adanya aturan tentang kewajiban memiliki dua jenis tempat sampah ini mungkin bisa jadi langkah pertama untuk membiasakan masyarakat pada kebiasaan memilah sampah.

6. Aturan Khusus Kepada Pelaku Usaha Tentang Konsekuensi Pengelolaan Kemasan Produk

Pernah nggak kita perhatikan sampah plastik apa sih yang mendominasi tempat sampah?

Dokumentasi Pribadi : tepi salah satu sungai di Kota Metro

Kebanyakan itu sampah sachet kemasan-kemasan kecil. Kemasan itu adalah produk dari suatu brand. Selama ini sampah plastik selalu dipikirkan bagaimana mengelolanya. Sementara Bank Sampah selalu dilimpahi beban itu tentang bagaimana mengelola sampah-sampah plastik.

Padahal perusahaan yang mengeluarkan kemasan itu juga harus bertanggungjawab atas keputusannya membuat kemasan kecil seperti itu. Setidaknya mereka yang memutuskan untuk membuat kemasan-kemasan plastik harus turut berkontribusi dalam pengelolaan sampah plastiknya.

Wah, tidak terasa ya, panjang lebar ngomongin fakta tentang perubahan iklim, dampaknya di lingkungan sekitar, tindakan nyata untuk mengurangi perubahan iklim sampai ide-ide kebijakan untuk memitigasi perubahan iklim. Kira-kira itulah beberapa tindakan nyata dan secuil ide dari saya #UntukmuBumiku. 

Kalau #BersamaBergerakBerdaya versi kalian apa nih? Boleh dong tulis di kolom komentar ya!

15 Responses to "Bersama Bergerak Berdaya Mencegah Perubahan Iklim"

  1. Masya Allah, Mbak Ririn sangat menginspirasi!
    hal-hal kecil untuk menyelamatkan bumi dapat dilakukan mulai dari diri sendiri. Semakin banyak orang melakukannya, semakin besar pula dampaknya.
    iya beneeeer emang suhu akhir-akhir ini panas lebih tinggi dari biasanya. Ternyata itu ya akibat ulah manusia sendiri.

    ReplyDelete
  2. Point yang makjleb banget untuk saya adalah tidak membeli makanan dalam porsi banyak lalu membuangnya. Secara gak langsung juga berpengaruh terhadap lingkungan ya mbak. Dan kalau bukan diri sendiri siapa lagi yang akan menyelamatkan bumi kita tercinta

    ReplyDelete
  3. Cuaca panas akhir-akhir ini juga katanya karena krisis iklim, ya. Ngeri juga kalau mengingat dampaknya. Tapi, juga jadi menyadarkan pentingnya untuk mulai peduli dengan lingkungan.

    ReplyDelete
  4. perubahan iklim ini emang jadi tanggung jawab kita semua ya kak karena kita bagian dari penduduk bumi jadi harus ikut melestarikan bumi juga

    ReplyDelete
  5. Banyak hal kecil yang sebenarnya bisa kita lakuin untuk selamatkan Bumi ya Ka. Segampang matiin lampu kalau lagi ngga dipakai. Kelihatannya receh banget, tapi kalau dilakuin sama-sama ya itu, berdaya juga. Berdampak juga. Tulisannya menarik, Mba

    ReplyDelete
  6. Ya nyata adanya suhu bumi meningkat, mungkin kita yang sudah paham ilmunya bisa menerapkan gaya hidup sustain. Tapi sayang masyarakat di daerah pedesaan yg jauh dr edukasi juga mulai membuang sampah ke sungai, tidak memperdulika penggunaan plastik 1 kali pakai

    ReplyDelete
  7. Suka sedih lihat orang-orang yang buang sampah sembarangan. Mereka gak sadar kalau merusak lingkungan mereka sendiri

    ReplyDelete
  8. Bagus banget programnya dalam menjaga lingkungan semoga bumi kita semakin Lestari dan terjaga dengan kegiatan yang sudah kita lakukan

    ReplyDelete
  9. Perubahan iklim sudah dj depan mata. Cuaca panas akhir akhir ini udah berasa banget. Beda panasnya. Sampai badan berasa pegal. Padahal biasanya gak apa apa kena terik matahari gak masalah

    ReplyDelete
  10. Wah inspiratif sekali idenya kak. Cuman saya bingung kalau bikin eco enzim. Belum bisa soalnya. Wkwkwk

    ReplyDelete
  11. Sampah rumah tangga tuh sesuatu
    Setiap hari bisa ada 2-3 kresek besar tiap rumah
    Kalau sepekan sudah berapa dan pasti sangat disayangkan jika itu terus menjadikan bumi makin rusak

    ReplyDelete
  12. aku banget suka belanja karena laper mata, ujung-ujungnya nggak diolah, next akan lebih bijak lagi trims remaindernya kak

    ReplyDelete
  13. Sekarang di mana mana pada sambat cuaca yang panas ya Mbak. Semakin banyak orang menggunakan AC.

    Duh itu liat sampah sampahnya, sedih yaa Allah.

    ReplyDelete
  14. Perubahan iklim ini tidak bisa dianggap sepele ya. Kita harus bersama-sama bergerak untuk bumi.

    ReplyDelete
  15. Sampah rumah tangga memang bisa jadi banyak banget, tapi sebenarnya kalau kita bawa tas belanja, botol minum, wadah makan, bisa mayan banyak berkurang. Ada bank sampah juga bagus banget karena sekarang ini banyak makanan ngehits yang pakai kemasan sekali pakai otomatis sampah makin banyak

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel